Selasa, 17 Jul 2018 09:50 WIB

Microsoft Peringatkan Pemindai Wajah Rawan Disalahgunakan

Virgina Maulita Putri - detikInet
Ilustrasi. Foto: Gettyimages Ilustrasi. Foto: Gettyimages
Jakarta - Presiden Microsoft, Brad Smith, memperingatkan bahwa penggunaan teknologi facial recognition rawan untuk disalahgunakan. Ia juga meminta agar penggunaannya diatur dalam undang-undang.

Smith mengaku bahwa teknologi ini dapat digunakan secara positif dan untuk kebaikan bersama, seperti mencari anak yang hilang atau mengidentifikasi teroris. Tetapi, ia juga mengatakan bahwa ada potensi penggunaan lain yang negatif.

"Bayangkan jika pemerintah melacak kemanapun Anda berjalan selama sebulan terakhir tanpa seizin atau sepengetahuan Anda. Bayangkan sebuah database yang berisi semua orang yang menghadiri pertemuan politik yang merupakan esensi dari kebebasan bersuara " kata Smith dalam blog postnya, seperti dikutip detikINET dari The Guardian, Selasa (17/7/2018).



"Bayangkan toko-toko di pusat perbelanjaan menggunakan facial recognition untuk berbagi informasi satu sama lain tentang rak yang anda jelajahi dan produk yang anda beli, tanpa meminta izin anda terlebih dahulu," tambahnya.

Microsoft merupkan perusahaan teknologi besar pertama yang menyatakan kekhawatirannya terhadap penggunaan teknologi ini.

Sedangkan Amazon, yang juga mengembangkan teknologi facial recognition, diminta kelompok kebebasan sipil untuk berhenti menyediakan teknologi tersebut kepada pemerintah karena dikhawatirkan digunakan untuk menargetkan imigran dan orang kulit berwarna secara tidak adil.

Untuk itu, ia meminta kongres Amerika Serikat untuk membuat komite ahli untuk merumuskan regulasi terkait penggunaan facial recognition. Namun, ia juga mengatakan bahwa adanya regulasi pemerintah tidak membuat perusahaan teknologi lepas dari tanggung jawab.



"Kami menyadari bahwa salah satu isu sulit yang harus kami tangani adalah perbedaan antara pengembangan layanan facial recognition kami dan penggunaan infrastruktur IT kami yang lebih luas oleh pihak ketiga yang membangun dan menerapkan teknologi facial recognition mereka sendiri," jelasnya.

Smith kemudian menambahkan bahwa perusahaannya telah menolak proposal dari beberapa pihak yang ingin menggunakan teknologi facial recognition milik Microsoft dalam situasi yang dapat mengancam hak asasi manusia. (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed