Senin, 09 Jul 2018 18:47 WIB

Kisah Perjuangan Keras Pendiri Raksasa Internet China

Virgina Maulita Putri - detikInet
Charles Chen. Foto: SCMP Charles Chen. Foto: SCMP
Jakarta - Salah satu pendiri Tencent, Charles Chen, ternyata sempat gagal dalam salah satu ujian masuk Universitas Shenzhen. Momen kegagalan itulah yang menjadi motivasi Chen untuk terus bekerja keras.

"Saya berjanji kepada diri sendiri bahwa saya perlu bekerja keras," kata Chen dalam wawancara dengan CNBC, seperti dikutip detikINET, Senin (9/7/2018).

Chen gagal dalam ujian bahasa China yang merupakan salah satu ujian masuk Universitas Shenzhen. Untungnya, ia berhasil lulus ujian subyek lainnya sehingga ia berhasil diterima sebagai mahasiswa jurusan Kimia.

"Kegagalan ini membuat saya meluangkan waktu lebih banyak di layanan mahasiswa (di komunitas mahasiswa). Melalui layanan ini, saya bertemu dengan wanita di kuliah Kimia, yang sekarang menjadi istri saya. Saya berterima kasih kepada Kimia dan kegagalan ujian," ujar Chen.



Di Universitas Shenzhen lah Chen bertemu dengan empat pendiri Tencent lainnya, Pony Ma, Tony Zhang, Xu Chenye, dan Zeng Liqing. Ketika ia memulai Tencent bersama keempat temannya di tahun 1998, Chen langsung dihadapkan dengan dotcom boom dan dunia start-up yang tidak stabil.

"Saya masih ingat ketika saya memulai Tencent dengan pendiri lainnya, saya tahu bahawa saya akan menghadapi bisnis start-up yang tidak stabil. Masa depannya seperti apa?," tanya Chen.

Menghadapi tantangan dan ketidakpastian tersebut, Chen terus mempertahankan sikap positif. Selain itu, Chen juga mengandalkan nasihat sederhana istrinya terkait masalah bisnis.

Ketika Tencent mulai berkembang, ternyata teknologi yang diandalkan Tencent mulai ketinggalan zaman. Saat itu layanan utama Tencent mengandalkan popularitas pager, tetapi ketika handphone menjadi semakin canggih, pager mulai ditinggalkan.

Tencent dikhawatirkan akan gagal sebelum berkembang. Hal ini memberikan tekanan yang sangat besar kepada Chen untuk segera menjadi sukses. Tapi tekanan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan tekanan dari orang tua Chen.

"Masa depan sangat tidak stabil. Saya tidak berani memberi tahu orang tua saya," ujarnya.

Chen sebelumnya telah mendapatkan pekerjaan di pemerintah setelah lulus, tetapi ia segera memutuskan untuk fokus dalam mengembangkan Tencent. Untuk itu, ia berpura-pura kepada orang tuanya selama dua tahun kalau ia memiliki pekerjaan yang stabil.

Orang tuanya akhirnya tahu tentang pekerjaan Chen di Tencent dan memberi dukungan sepenuhnya setelah Tencent mendapatkan pendanaan melalui venture capital.

Perjuangan dan ketekunan Chen dalam mengembangkan Tencent akhirnya berbuah hasil. Tencent merupakan merek paling berharga ke-8 di tahun 2018. Tencent juga menjadi perusahaan Asia pertama yang memiliki nilai pasar sebesar USD 500 miliar.



Posisi ini merupakan posisi tertinggi yang dicapai oleh perusahaan teknologi dari Asia. Posisi Tencent pun didahului oleh raksasa Silicon Valley seperti Microsoft, Apple, dan Google.

Chen memuji budaya Tencent yang terbuka dan kemampuan pendirinya untuk mengekspresikan pemikiran terbuka yang mampu membawa Tencent ke posisi yang setara dengan perusahaan teknologi AS. (fyk/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed