Kamis, 05 Jul 2018 09:00 WIB

India Minta WhatsApp Cegah Penyebaran Pesan Hoax

v - detikInet
Foto: Carl Court/Getty Images/ Foto: Carl Court/Getty Images/
Jakarta - Belakangan ini, berita palsu tentang penculik anak yang tersebar di WhatsApp memicu pemukulan terhadap belasan orang di India.
Bahkan ada segerombolan orang memukuli lima orang yang dicurigai sebagai penculik anak hingga tewas di provinsi Maharashtra.

Tak ingin kejadian itu terus terulang, pemerintah India turun tangan. Mereka meminta WhatsApp untuk mencegah penyebaran berita palsu dan konten provokatif di platformnya.

"Ketidaksetujuan yang mendalam terhadap perkembangan tersebut telah disampaikan kepada manajemen senior WhatsApp dan mereka telah disarankan bahwa tindakan perbaikan yang dibutuhkan harus diambil," kata Kementerian Elektronik dan Teknologi Informasi India dalam pernyataan resminya, seperti dikutip detikINET dari Reuters, Kamis (5/7/2018).



Kementerian IT menyatakan bahwa penegak hukum sudah menindak pelaku pembunuhan, tetapi penyebaran berita palsu di WhatsApp yang tanpa henti juga merupakan hal yang mengkhawatirkan.

Mereka juga menyatakan bahwa WhatsApp tidak boleh mengelak dari tanggung jawab jika platformnya disalahgunakan oleh pengguna untuk menyebarkan informasi yang tidak benar.

"Pemerintah juga telah menyampaikan bahwa WhatsApp harus segera mengambil tindakan untuk menghentikan ancaman ini dan memastikan bahwa platform mereka tidak digunakan untuk kegiatan jahat," lanjut pernyataan tersebut.



WhatsApp sendiri sudah menyatakan bahwa mereka tidak ingin platformnya disalahgunakan untuk menyebarkan informasi yang tidak benar. Mereka juga menambahkan bahwa penyebaran berita palsu merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh masyarakat dan WhatsApp sendiri.

Aplikasi messaging yang dimiliki Facebook ini juga sedang menguji beberapa fitur untuk meendidik penggunanya untuk mengidentifikasi berita palsu.

Salah satunya adalah uji coba beta yang akan melabeli pesan yang diteruskan. WhatsApp juga baru saja mengenalkan pengaturan yang hanya memperbolehkan admin dan pemilik grup untuk mengirim pesan. (afr/afr)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed