Korea Selatan Dulu Lebih Melarat dari Zimbabwe

Korea Selatan Dulu Lebih Melarat dari Zimbabwe

Fino Yurio Kristo - detikInet
Kamis, 28 Jun 2018 11:55 WIB
Salah satu sudut kota Seoul. Foto: Dadan Kuswaraharja
Jakarta - Prestasi Korea Selatan di bidang sepakbola tak diragukan, mereka langganan jadi wakil Asia di Piala Dunia. Bahkan baru saja kesebelasan Negeri Ginseng menaklukkan raksasa Jerman. Pernah pula masuk semifinal kala jadi tuan rumah tahun 2002. Selain soal menyepak bola, Korsel juga terkenal karena kisahnya jadi negara maju.

Sekarang Korsel dikenal sebagai Macan Asia, dengan perekonomian mapan dan perusahaan-perusahaannya disegani di dunia. Padahal dahulu, Negeri Ginseng ini benar-benar negara miskin.

Usai perang Korea, seperti juga di Korea Utara, kondisi Korea Selatan benar-benar hancur. Bahkan supaya rakyat di Selatan tak sampai mati kelaparan, tentara Amerika membagi-bagikan makanan. Bisa dibayangkan seperti apa kondisi ketika itu.



Saksikan juga video 'Giliran Korea Selatan Pamer Kekuatan':




Majalah Time pernah mengulas bahwa pada tahun 1960, Korea Selatan lebih miskin dari Irak, Liberia, dan Zimbabwe. Mereka baru selesai perang dengan tetangganya dan tidak punya sumber daya alam.

Kini situasi sudah begitu jauh berbeda. Pendapatan per kapita warganya tembus di atas USD 30 ribu. Perusahaan teknologinya seperti Samsung dan LG tenar di mana-mana. Perusahaan internet Korea Selatan, Naver Corporation, mengglobal antara lain berkat layanan messaging Line yang dikembangkan subsidary-nya di Jepang, Line Corporation.

Salah satu produk Korsel, Galaxy S9. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET


"Hari ini, Korea adalah anggota G20 dan manufaktur terdepan di microchip, panel LCD dan mobil. Dari seluruh ekonomi Asia yang maju pesat, Korea yang mengalami peningkatan GDP per kapita tercepat sejak pertengahan 1960," sebut Michael Schuman dari Time.

"Sekitar 50 tahun lalu, Korsel masih pedesaan miskin. PBB mengusulkan agar mereka meniru Kenya saja agar maju. Tapi pemimpin Korsel memilih jalan sendiri. Sekarang dalam purchasing power parity, orang Korea meraih USD 33 ribu per tahun per kapita. Kenya hanya seperduapuluhnya," tulis Rowan Callick dari The Australian.

Kemajuan Korea Selatan memang sangat ditunjang oleh perkembangan pesat industri teknologinya. Miskin sumber daya alam, mereka bekerja keras menjadi produsen barang jadi yang akhirnya digemari.

Pondasi pembangunan Negeri Ginseng sudah ditanam oleh Presiden Park Chung-hee yang berkuasa beberapa tahun setelah Korea luluh lantak oleh perang saudara.

Sadar negaranya sangat miskin, Presiden Park menekankan bahwa rakyat Korea Selatan harus bekerja dengan amat keras, bahkan lebih keras dari rakyat negara-negara lain.



Tak cuma harus kerja keras dan disiplin ala militer, Presiden Park yang seorang Jenderal juga menanamkan semangat pali-pali alias bekerja cepat. Hasilnya sekarang, bisa dilihat sendiri.

Kemungkinan pada 40 atau 50 tahun lalu, Korea Selatan sama miskinnya dengan Indonesia. Yang membedakan barangkali adalah 'semangat ginseng' mereka yang membara untuk meraih kemajuan, membuat Korsel menjadi lebih mapan.
Korea Selatan Dulu Lebih Melarat dari Zimbabwe
(fyk/fyk)