Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Judith MS
'Warnet Lebih Suka Ngebajak'
Judith MS

'Warnet Lebih Suka Ngebajak'


- detikInet

Jakarta - Gerakan Indonesia Goes to Open Source (IGOS) tidak selamanya mulus. Warnet yang semula diharapkan mendongkrak penggunaan sistim operasi berbasis Open Source, ternyata lebih menyukai software bajakan.Ketua Presidium Asosiasi Warnet Indonesia Judith MS mengeluhkan kurangnya perhatian dari komunitas warnet tentang penggalakan sistim operasi berbasis Open Source. Menurutnya, komunitasnya lebih suka menggunakan sistim operasi bajakan."Sudah capek-capek di-support, malah warnetnya sendiri yang ngeyel. Bagaimana nggak miris dengarnya," kata Judith ketika dihubungi detikinet Jumat (22/7/2005). "Mereka lebih suka pakai software bajakan," ujarnya kesal.Banyaknya dukungan terhadap gerakan Indonesia Goes to Open Source (IGOS) oleh semua pihak, menurutnya kurang mendapat respon positif dari pihak warnet. Hal itu dilihat dari minimnya perwakilan warnet yang bersedia mengikuti pelatihan Waroeng IGOS Training of Trainers (ToT)."Kurang di-support apa, semua pihak dari komunitas linux, akademisi, swasta bahkan pemerintah dukung IGOS untuk kebaikan warnet. Sampai-sampai Pak Kardiman (Menristek-red) dan Pak Sofyan (Menkominfo-red) duduk bareng cuma buat mikirin solusi buat warnet," papar Judith menyayangkan sikap sebagian komunitasnya.Dukungan terhadap gerakan open source, masih menurut dia, tidak hanya di Indonesia. Pihak LSM dari Belanda dan Kanada juga menyatakan dukungan terhadap usaha pelegalan UKM seperti warnet. "Orang dari luar aja appreciate, masa kita nggak. Warnet-warnet sudah lupa diri," geram Judith. "Asosiasi mana yang dapat dukungan dari institusi negara, apalagi kita (AWARI-red) kan asosiasi maya," tambahnya.Bahkan menurutnya, Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas mendukung gerakan open source di kalangan warnet dengan menawarkan Memorandum of Understanding (MoU) antara KPK dengan AWARI untuk menjadikan warnet tempat pengaduan korupsi. "Pokoknya kalo komunitas warnet tidak menghargai, mereka sendiri yang rugi. Padahal ini momen yang bagus," tegas Judith.ToT sendiri, lanjutnya akan digelar pada roadshow di beberapa kota sesuai undangan pihak sponsor seperti Bandung, Semarang, Jogja dan Makassar. Saat ini ToT yang sedang digelar di Universitas Gunadarma, Depok, baru saja mengakhiri gelombang pertama dari tiga termin. ToT berlangsung dari tanggal 21 Juli hingga 28 Juli 2005.Lebih Senang Bayar AparatBeberapa warnet di Jakarta menurut Judith, dikabarkan lebih rela membayar uang tutup mulut pada oknum Kepolisian demi amannya usaha mereka. Desas-desus itu sangat disesalkan Judith dan menimbulkan banyak pertanyaan. "Kenapa mereka lebih senang bayar aparat, bahkan ada yang ngaku bayar polisi sampai 100 juta. Kan itu nggak masuk akal," ujar Judith. "Tapi kenapa uang 100 juta itu tidak digunakan untuk membeli lisensi software legal atau migrasi saja," tambahnya.Lebih lanjut, Judith menceritakan permasalahan yang dihadapi beberapa pengusaha warnet itu. Pemilik warnet itu mengaku dalam keadaan terjepit dan ketakutan.Masih awamnya masyarakat --khususnya pengguna warnet-- dengan penggunaan sistim operasi berbasis open source, menjadi dilema para pengusaha warnet. Hal itu menyebabkan mereka lebih memilih sistim operasi sudah lebih dulu dekat dengan penggunanya."Masak cuma gara-gara game online saja dijadikan alasan," ujar Judith. "Kalau semuanya kompak migrasi, mau tidak mau pengembang game online pasti dukung juga," tambahnya. (rou/)







Hide Ads