Kuku Jari Bisa untuk Menyimpan Data
- detikInet
Jakarta -
Yoshio Hayasaki bersama rekan-rekannya dari Tokushima University, Jepang, telah menemukan bahwa data dapat disimpan pada kuku manusia. Caranya? meradiasi kuku dengan laser femtosecond (frekuensi tinggi - satu kali sepuluh pangkat -15 detik). Kapasitas penyimpanannya bisa mencapai 5 Megabit dan bisa bertahan sampai 6 bulan. Masa itu setara dengan umur sebuah kuku jari manusia sebelum tergantikan sepenuhnya. Sebagai perbandingan, media penyimpanan saat ini pada umumnya memiliki kapasitas dengan satuan byte (Satu bit setara dengan 1/8 byte). Melihat hal itu, Hayasaki mengakui bahwa penerapan temuan ini memang bukan untuk penyimpanan data dalam jumlah besar. "Aplikasi kunci temuan ini adalah untuk otentifikasi personal. Data ditempatkan pada kuku jari sehingga dapat digunakan bersamaan dengan sistim otentifikasi biometrik lainnya seperti sidik jari danpembuluh darah," ujarnya seperti dilansir Jacqueline Hewett dari physicsweb.org, yang dikutip detikinet, Senin (15/7/2005).Secara sederhana, sistim ini menggunakan laser femtosecond untuk menulis data ke kuku. Bagian kuku yang 'digores' oleh laser tersebut akan memiliki pendaran cahaya (fluoresensi) yang lebih tinggi dari bagian lain. Kemudian, mikroskop fluoresens dapat digunakan untuk membacanya.Eksperimen awal diterapkan pada kuku jari manusia berukuran 2 x 2 x 0,4 milimeter kubik. Namun kuku tersebut sudah terlepas dari jari. Mirip dengan cakram digital, informasi pada kuku jari disimpan dalam bentuk goresan pada permukaan. Satu 'bit' data berdiameter 3,1 mikron dan ditulis oleh satu kali goresan laser. Lewat sebuah mekanisme motorik, diciptakan jarak antar bit berukuran 5 micron. Sedangkan setiap layer rekaman data dibedakan oleh kedalaman goresan dengan pautan 20 micron. Mikroskop yang digunakan memiliki lampu xenon berfilter yang akan membangkitkan fluoresensi pada kuku. Kemudian, data dibaca sesuai kedalaman goresan (layer). Menurut Hayasaki, jarak antar bit itu cukup untuk mencegah terjadinya gangguan pembacaan. Data masih bisa dibaca hinga 172 hari setelah penulisan. Saat ini tim peneliti tersebut sedang mengembangkan sistim yang dapat menulis data pada kuku yang masih menempel pada jari. Hayasaki berjanji ia dan tim peneliti akan mengembangkan proses penulisan data yang bisa mentoleransi pergerakan jari saat data dibaca.
(wsh/)