Rabu, 30 Mei 2018 16:02 WIB

Pengakuan Bos Facebook Soal Kebocoran Data Jutaan Pengguna

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilustrasi Facebook. Foto: Reuters Ilustrasi Facebook. Foto: Reuters
Jakarta - Skandal besar yang menyeret Facebook karena penyalahgunaan data pribadi pengguna oleh pihak ketiga, tentu menjadi pertanyaan kenapa hal itu terjadi pada perusahaan sekelas mereka.

Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh Chief Operating Officer (COO) Facebook Sheryl Sanberg. Diungkapkannya bahwa Facebook tidak melihat kalau ancaman itu berasal dari aplikasi pihak ketiga, yakni oleh Cambridge Analytica.

Seperti diketahui, Cambridge Analytica menyalahgunakan 87 juta data pengguna Facebook. Data-data pengguna tersebut malah dimanfaatkan untuk kepentingan politik, tepatnya mempengaruhi hasil pemilihan presiden di Amerika Serikat pada 2016 lalu.

"Jika kembali ke tahun 2016 dan Anda berpikir tentang apa yang dikhawatirkan orang terhadap negara, negara bagian, atau keamanan pemilu, itu sebagian besar adalah mengenai spam dan peretasan. Itu yang orang khawatirkan," tutur Sandberg dilansir dari Tech Crunch, Rabu (30/5/2018).



Sandberg kemudian memberi contohnya, yakni peretasan email Sony dan hal itu tidak terjadi pada Facebook sejauh ini. Hal itu, yang membuat Facebook tidak merasa ada hal berbahaya lainnya terhadap perusahaan.

"Kami tidak melihat adanya ancaman lain yang lebih berbahaya," sebutnya.

Perusahaan media sosial ini mengaku tidak menyadari bahwa ancaman juga bisa berasal dari dalam. "Kami fokus pada ancaman lama dan sekarang kami mengerti bahwa ini adalah jenis ancaman yang kami miliki," kata Sandberg menambahkan.



Tak hanya terlambat untuk menemukan akses tidak sah oleh Cambridge Analytica kepada data penggunanya, tetapi Facebook juga masih belum mengetahui persis data apa yang diakses konsultan politik tersebut.

Saat ini, Facebook masih berupaya untuk melakukan audit secara internal. Namun di saat bersamaan pemerintah Inggris memutuskan untuk menginvestigasi terlebih dulu, sehingga audit Facebook tertahan.

"Mereka tidak memiliki data yang dapat kami identifikasi. Sampai hari ini, kami masih belum tahu data apa yang dimiliki Cambridge Analytica," pungkasnya. (agt/fyk)