Senin, 21 Mei 2018 11:00 WIB

Skandal Cambridge Analytica Tak Mampu Goyang Facebook

Virgina Maulita Putri - detikInet
Ilustrasi Facebook. Foto: Reuters Ilustrasi Facebook. Foto: Reuters
Jakarta - Skandal kebocoran data yang melibatkan Facebook dan perusahaan analisis data Cambridge Analytica dianggap sebagai salah satu krisis terbesar yang dialami jejaring sosial terbesar di dunia itu.

Namun kenyataannya, jumlah pengguna Facebook saat skandal tersebut sedang memuncak justru meningkat. Menurut data dari Goldman Sachs, pengguna unik Facebook mobile meningkat 7% mencapai 188,6 juta pada April 2018, seperti dikutip detikINET dari Business Insider, Senin (21/5/2018).

Selain itu, menurut Deutsche Bank, penghapusan 583 juta akun palsu tidak mempengaruhi jangkauan iklan kepada audiens. Iklan di Facebook yang menargetkan seluruh demografik juga menunjukkan peningkatan.



"Kami menunjukkan bahwa data ini mewakili jangkauan audiens di seluruh properti, bukan hanya terkait dengan (audiens) inti Facebook, namun kami menduga mereka menghapus akun-akun palsu di seluruh bagian dan melihat ini sebagai indikasi bahwa jangkauan iklan di Facebook terus meningkat," jelas Deutsche Bank.

Data ini tentu memberi angin segar bagi CEO Facebook, Mark Zuckerbeg, yang minggu ini akan bertemu Presiden Prancis, Emmanuel Macron, dan pemimpin Parlemen Eropa. Pertemuan ini akan fokus kepada privasi data pasca skandal Cambridge analytica dan penyebaran fake news yang dikhawatirkan akan mempengaruhi pemilihan umum di Eropa.

Namun, saat berbicara di depan Kongres Amerika Serikat bulan lalu, Zuckerberg sudah menjelaskan bahwa tidak banyak pengguna Facebook yang menghapus akun mereka paska skandal. Hal ini menunjukkan bahwa ajakan untuk #deleteFacebook tidak memiliki dampak yang signifikan. (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed