Minggu, 20 Mei 2018 03:22 WIB

Di China, Bitcoin 'Bukan Apa-apa'

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: Australia Plus ABC Foto: Australia Plus ABC
Jakarta - Walau Bitcoin dapat dibilang merupakan pionir dari seluruh cryptocurrency yang ada, ternyata tidak membuat posisinya kuat di tiap negara di seluruh dunia. Hal tersebut tampak dari posisinya dalam daftar mata uang virtual teratas yang dirilis oleh pemerintah China.

Dalam daftar bernama Global Public Chain Assessment Index yang dirilis oleh China Center for Information Industry Development (CCID), bagian dari Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi negeri Tirai Bambu tersebut, Bitcoin hanya menempati urutan ke 13. Indeks itu sendiri berisi 28 proyek berbasis blockchain yang tergolong cryptocurrency.

Peringkat pertama ditempati oleh Ethereum, mata uang virtual yang bisa dibilang menjadi salah satu pesaing utama dari Bitcoin dalam hal kapitalisasi pasar. Keduanya merupakan penguasa pasar cryptocurrency terbesar dengan Bitcoin memiliki kapitalisasi USD 140 miliar, sedangkan Ethereum USD 69 miliar. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar dari lebih 1.500 cryptocurrency yang beredar di dunia hampir mencapai USD 380 miliar.



Ethereum mengoleksi perolehan nilai 129,4 poin, hasil dari banyaknya pengaplikasian mata uang virtual tersebut dalam initial coin offering (ICO). Kebanyakan, para startup yang menerapkan penawaran tersebut sebagai strategi pengumpulan dana untuk proyeknya.

Di posisi kedua, ketiga, keempat, dan kelima secara berurutan ditempati oleh Steem, Lisk, NEO, dan Komodo dengan skor masing-masing 115,9, 104,8, 103, and 101,5. Sedangkan Bitcoin, yang bahkan tidak sanggup untuk menembus 10 besar, hanya mengoleksi 88 poin, sebagaimana detikINET kutip dari Reuters, Minggu (20/5/2018).

Indeks yang nantinya diperbarui setiap bulan ini dibuat berdasarkan kapabilitas, kegunaan dari pengaplikasiannya, serta inovasi yang ditawarkan oleh proyek berbasis blockchain yang tergolong cryptocurrency. Secara umum, China memang melihat teknologi blockchain sebagai sektor yang penuh dengan inovasi.

Negara yang dipimpin oleh Xi Jinping ini menargetkan teknologi tersebut dapat diaplikasikan secara publik dan terdesentralisasi agar berperan signifikan dalam ekonomi di masa depan.



Hal tersebut diwujudkannya dengan keaktifan pemerintah China sebagai negara yang paling aktif dalam mendaftarkan paten mengenai pengaplikasian teknologi blockchain sepanjang tahun lalu.

Hal tersebut berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Thomson Reuters' Practical Law from the World Intellectual Property Organization. Di samping itu, pemerintah China juga getol dalam menutup ICO ilegal yang beredar mulai paruh kedua tahun lalu. (rns/rns)