Sabtu, 12 Mei 2018 14:05 WIB

'Startup Lokal Jangan Mengejar Pendanaan Melulu'

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: Internet Foto: Internet
Jakarta - Selain mengejar pendanaan, startup di Indonesia baiknya fokus pula pada konsumen dan pelayanan. Sehingga unicorn-unicorn baru di Tanah Air bisa terus lahir.

Demikian disampaikan CEO Bukalapak Achmad Zaky saat diskusi bertajuk Indigo Startup Gathering: The Next Unicorn yang berlangsung di Jakarta, beberapa waktu lalu. Menurutnya pendanaan penting tapi bukan yang terpenting.

"Paling penting adalah fokus ke kustomer, bagaimana melayani mereka sebaik mungkin sekaligus menciptakan kepercayaan stakeholder utama kita ke startup kita," katanya.



Zaky lantas mencontohkan kegalauan yang pernah dialami Bukalapak tahun 2012 lalu. Kala itu tersiar rumor ada pemain e-Commerce asal Jerman akan masuk ke Indonesia dengan membawa dana sekitar Rp 3 triliun.

Ketika kabar tersebut sampai ke telinga Zaky dan teman-temannya di Bukalapak, seketika rasa takut menyelimuti. Sebab ada persepsi yang terbangun di mana yang punya duit berlebih selalu akan memenangkan persaingan.

"Saya sebagai leader coba alihkan perhatian agar tim tak demotivasi, salah satunya mengajak mereka lebih giat bekerja. Lebih sering ke bawah temui merchant UKM, karena merchant juga ternyata senang sekali kita datangi," ungkap pria asal Sragen itu.

CEO Bukalapak Achmad ZakyCEO Bukalapak Achmad Zaky Foto: Indigo


Tak habis di situ, karyawan pun terus dipapar gambaran tentang misi dan visi perusahaan, termasuk di dalamnya memberikan pendelegasian proses bisnis. Zaky mencoba untuk tidak mensentralisasi keputusan tak lagi tersentralisasi melihat pertumbuhan karyawan dari 50 orang dan akhirnya kini 2000 orang.

"Sekarang keputusan saya distribusikan. Lalu kalau dari keputusan yang ada, delapan gagal dan dua berhasil, itu bagus. Justru setelah dengan cara ini, maka pertumbuhan Bukalapak benar-benar bagus," kata Zaky.

Kembali soal startup, Zaky kemudian mengatakan ketika pertumbuhan bagus, maka akan mengundang banyak investor. Di saat inilah kental akan sisi prestise-nya.



Perusahaan diperhitungkan secara global dan mudah meyakinkan banyak hal. Situasi ini memberi imbas makin menumbuhkan kepercayaan diri tim untuk terus berprestasi.

"Kita harus umpamakan itu seperti anak sendiri. Kalau ke anak hubungan kita mendalam, dia sakit panas ingin cepat pulang dan tidak tiba-tiba pengen punya anak lain yang badannya besar dan tumbuh cepat," ujar pria berkacamata itu.

Dalam kesempatan yang sama, Managing Director Indigo.id Ery Punta Hendraswara mengatakan, pihaknya saat ini telah membina 102 start up dari mulai berdiri tahun 2009 hingga sekarang dan akan terus membangun ekosistem tersebut.

"Di Asia Tenggara, dari sekian banyak unicorn , ternyata unicorn terbanyak itu adanya dari Indonesia. Indigo perlu hadir mendukung ekosistem di Indonesia guna terciptanya digital-digital startup yang baru.," ungkapnya.

Ery pun yakin target yang Indigo ingin capai bisa terlaksana. Sebab pihaknya menjadi bagian Telkom Grup yang memiliki akses pasar yang sangat besar walaupun belum maksimal digunakan.

"Jadi kita harapkan nanti temen-temen selain mendapatkan value dari produknya, juga dapat value dari market. Kita harapkan nanti ke depan semua yang sudah dapat pendanaan diikuti yang lain, dan seterusnya bisa melakukan IPO," pungkasnya. (afr/afr)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed