Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
IGOS Tidak Jamin Hentikan Sweeping Warnet

IGOS Tidak Jamin Hentikan Sweeping Warnet


- detikInet

Jakarta - Adanya gerakan Indonesia Goes Open Source (IGOS), menurut Menristek, tidak menjamin sweeping di kalangan warnet akan berhenti. Di sisi lain, warnet justru meminta di-sweeping. Menurut Menristek Kusmayanto Kardiman, meskipun sweeping masih mungkin terjadi, tapi setidaknya kalangan warnet sudah siap menghadapi. "Mau sweeping ya silakan saja," katanya kepada wartawan di ruang rapat Ristek Selasa (12/7/2005).Tapi menurutnya, meski dirasa sudah siap, kalangan warnet tidak perlu mencari musuh dengan kepolisian. "Kita gak perlu bangunin macan tidur lah," ujarnya.Dengan penetrasi gerakan open source IGOS di kalangan warnet, Menristek memperkirakan kalangan warnet yang tidak menggunakan open source dan lebih memilih menggunakan sistim operasi bajakan, akan tersisih dengan sendirinya.Menurutnya, 17 Agustus nanti, diharapkan seluruh warnet akan merdeka dari penggunaan software bajakan.Minta di-sweepingMenurut Judith MS, Presidium AWARI, berhentinya sweeping warnet malah akan menguntungkan 'oknum' warnet yang masih menggunakan software bajakan dan merugikan warnet yang sudah beralih ke open source."Buat apa kita teriak sudah menggunakan open source, nanti malah nggak di-sweeping," kata Judith. Menurutnya, aksi sweeping itu dengan catatan bahwa aparat negara dan instansi pemerintahan sudah menggunakan sistim operasi yang legal.Proses itu, menurutnya, akan menguntungkan warnet-warnet yang masih menggunakan sistim operasi Windows bajakan. Hal itu dilihat dari gejala masih belum familiarnya pengguna warnet menggunakan sistim operasi berbasis open source dan masih memilih penggunaan sistim operasi proprietary (Windows-red).Untuk mengikis kesenjangan pemasukkan di antara pengusaha warnet, Judith juga mengatakan membuat kesepakatan harga standar sewa warnet minimal dengan para Koordinator Wilayah (Korwil) warnet. "Korwil sepakat dengan harga Rp 4000-5000 per jam," tandasnya.Standar GandaJudith mencontohkan tentang institusi KPK yang memberantas korupsi dengan menggunakan sistim operasi legal. Dirinya menyayangkan kenapa tindakan itu tidak diikuti institusi yang lain. "Mereka memberantas korupsi dengan hal yang legal," ujarnya.Pemerintah sendiri menurutnya masih menerapkan standar ganda. "Mereka minta komunitas dan masyarakat menggunakan sistim operasi yang legal, kenapa mereka nggak terapkan sendiri," kata Judith."Jadi jangan gunakan standar ganda, kalau mereka sudah beres di instansi sendiri terserah saja mau sweeping warnet," tandasnyaKepada warnet yang sudah bermigrasi ke sistim operasi yang legal, proprietary ataupun open source, Judith mengucapkan rasa terima kasihnya. "Be Legal" ujarnya.Euforia BelakaHiruk pikuk IGOS yang sedang ramai ini diharapkan tidak hanya semangat di depan saja. Kesinambungan kinerja gerakan open source ini juga perlu diperhatikan.Menurut Michael Sunggiardi, Presidium AWARI, dirinya bersama pakar internet Onno W. Purbo pernah menggelar roadshow Linux ke 22 kota di seluruh Indonesia. Tapi hasil dari roadshow tersebut, tidak seperti yang diharapkan."Selain bagi-bagi software Linux, kita juga perlu untuk mendampingi mereka," kata Michael. Dengan demikian, lanjutnya, gerakan IGOS tidak hanya menjadi euforia belaka.Sumber Foto : Tim Detikinet (rou/)





Hide Ads