BERITA TERBARU
Kamis, 10 Mei 2018 20:14 WIB

Laporan dari San Francisco

Canggih! Kecerdasan Buatan Google Bisa Cegah Kebutaan

Fino Yurio Kristo, Fino Yurio Kristo - detikInet
Foto: Fino Yurio Kristo/detikINET Foto: Fino Yurio Kristo/detikINET
San Francisco - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi teknologi sentral yang banyak diumumkan perkembangan terkininya di perhelatan Google I/O 2018. CEO Google Sundar Pichai amat meyakini bahwa AI akan sangat bermanfaat di masa depan.

Tidak melulu di bidang gadget, teknologi AI telah dikembangkan untuk berbagai manfaat. Pendek kata, AI diam-diam dan lambat laun akan memasuki kehidupan sehari-hari manusia.

"Kami tahu bahwa teknologi AI ini harus dinavigasi dengan hati-hati. Teknologi ini bisa menjadi kekuatan yang positif," sebut pria kelahiran India ini, dalam event akbar yang dihadiri langsung detikINET tersebut.


"Kecerdasan buatan akan berdampak pada beberapa bidang, seperti kesehatan. Sistem AI kami menawarkan lebih banyak insight daripada yang dilakukan oleh manusia," tambahnya.

Pichai pun menjelaskan beberapa inovasi di bidang AI yang berguna di berbagai bidang, misalnya mendeteksi penyakit jauh lebih dini. Salah satunya di bidang kesehatan, di mana machine learning Google mampu membantu dokter memprediksi diabetic retinophaty.

Diabetic Retinophaty adalah penyakit mata yang bisa berakibat fatal, yakni membuat penderitanya mengalami kebutaan. Dengan lebih dari 415 juta penderita diabetes di seluruh dunia, mereka riskan menjadi tuna netra akibat penyakit tersebut.

Gelaran Google I/0 2018.Gelaran Google I/0 2018. Foto: detikINET/Fino Yurio Kristo

Teknologi AI Google yang diterapkan di sini adalah algoritma berbasis cloud yang menganalisa foto keseluruhan mata. Hal itu dilakukan untuk mencari tanda-tanda penyakit tersebut dan sejauh mana tingkat keparahannya.

Tanda-tanda yang bisa dilihat misalnya pertumbuhan tidak normal pembuluh darah yang berada di belakang mata, yang dapat menyebabkan gangguan pada retina. Teknologi AI Google memungkinkan deteksi ini dilakukan dengan cepat dan mendeksi hal-hal yang sulit dilihat mata manusia.


Dr. Jorge Cuadros ahli mata yang bekerja untuk Google, menyatakan bahwa kecerdasan buatan memiliki tingkat akurasi lebih dari 90% dalam mendeteksi diabetic retinophaty, yang berarti lebih baik dari kemampuan manusia.

Saat ini, teknologi tersebut sedang diujicoba di beberapa rumah sakit di India dan di Amerika Serikat. Tim Google bekerja bersama dokter di kedua negara itu untuk membuat semacam database yang berisi gambar-gambar mata untuk melatih kemampuan si AI lebih baik lagi.

Selain mendeteksi diabetic retinophaty, AI juga sudah dilatih memprediksi penyakit lain seperti kanker payudara dan jantung. Dengan teknologi yang sudah dimilikinya tersebut, bukan tak mungkin Google akan jadi pemimpin di bidang AI untuk kesehatan. (fyk/mag)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed