BERITA TERBARU
Senin, 23 Apr 2018 13:51 WIB

Rusia Blokir Telegram, Google Kena Batunya

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: GettyImages Foto: GettyImages
Jakarta - Keputusan pemerintah Rusia memblokir Telegram ternyata membuat sejumlah layanan yang diberikan Google juga terganggu di sana.

Google secara resmi mengatakan bahwa sejumlah layanannya mulai terdampak sikap pemerintah Rusia dalam memblokir akses pengguna Telegram terhadap platform berbagi pesan besutan Pavel Durov tersebut.

Sampai saat ini, Google Search, Google Mail, serta push notification untuk aplikasi Android menjadi sejumlah layanan yang terganggu di Rusia.



"Kami menyadari adanya sejumlah laporan dari para user di Rusia yang tidak bisa mengakses beberapa produk dari Google. Kini, kami tengah menginvestigasi laporan tersebut," ujar juru bicara Google, sebagaimana detikINET kutip dari TechCrunch, Senin (23/4/2018).

Terganggunya sejumlah layanan dari perusahaan teknologi asal California, Amerika Serikat, tersebut merupakan imbas dari pemblokiran hampir 19 juta alamat IP dari Google dan Amazon oleh Roskomnadzor.

Lembaga nasional Rusia yang bertanggung jawab dalam sektor komunikasi dan media massa tersebut melakukannya karena Telegram diketahui menggunakan alamat IP tersebut dalam operasionalnya.

Alasan Roskomnadzor memblokir begitu banyak alamat IP dikarenakan Telegram memiliki kemampuan dalam berpindah ke alamat IP lain ketika jalur yang mereka gunakan diblokir.

Dampaknya, tidak hanya layanan dari Google yang terganggu di negara pecahan Uni Soviet tersebut. Sejumlah platform yang menggunakan Google Cloud dan Amazon Web Services seperti Twitch dan Spotify pun turut bermasalah di sana.



Dengan layanan dari Google dan sejumlah platform lain mulai terkena dampak pemblokiran Telegram, Ilya Andreev, COO dan co-founder Vee Security, mengatakan bahwa pemerintah Rusia tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut. Status Rusia sebagai penyelenggara Piala Dunia 2018 menjadi salah satu alasannya.

"Rusia tidak bisa terus memblokir hal-hal di internet secara acak. Rusia sudah bekerja keras dalam melakukan pencitraan bagi orang-orang asing sebagai persiapan menuju Piala Dunia Juni-Juli nanti," katanya.

"Mereka tentunya tidak bisa membiarkan para turis datang dan menyadari Google tidak bisa bekerja di Rusia," pungkas Andreev. (rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed