BERITA TERBARU
Jumat, 20 Apr 2018 18:53 WIB

Mengintip Cara Google Rekam 'Jalan Tikus' di Jakarta

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Google Trekker. Foto: Muhamad Imron Rosyadi/inet Google Trekker. Foto: Muhamad Imron Rosyadi/inet
Jakarta - Google, lewat layanan Street View, baru saja mengumumkan bahwa mereka akan merekam gang-gang kecil di Indonesia. Bagaimana mereka melakukannya?

Dalam merekam gang-gang kecil di kawasan Jakarta, Google Street View memanfaatkan plaltform kamera bernama Trekker yang memiliki 15 lensa dengan sudut pandang berbeda antara satu dengan lainnya. Hal ini memungkinkan platform tersebut untuk memproduksi tampilan panorama 360 derajat.

Menariknya, seluruh lensa khusus dibuat oleh Google sendiri dan tidak untuk dikomersialkan. Karena membutuhkan tangkapan gambar yang jelas, Trekker hanya digunakan saat cuaca sedang cerah. Hal tersebut disebabkan butiran-butiran air hujan dapat mendistorsi hasil tangkapan gambar.



Kemudian, Trekker yang memiliki bobot 18 kilogram dan tinggi sekitar 1,2 meter tersebut dilengkapi dengan dua baterai berdaya tahan hingga 8 jam. Ketahanan baterai itu tergantung terhadap kondisi suhu dan lokasi, semakin dingin tempat yang dikunjungi maka dayanya akan lebih cepat terkuras.

Lalu, platform tersebut juga dilengkapi dengan SSD untuk merekam seluruh tangkapan gambar oleh belasan kamera yang dimilikinya. Setiap Trekker dapat dipasangi SSD berkapasitas hingga 960 GB.

Trekker memiliki dua versi, yaitu ransel dan skuter. Versi ransel digunakan untuk memasuki gang-gang kecil yang tidak bisa dimasuki kendaraan sama sekali. Sedangkan versi skuter dimanfaatkan pada gang-gang dengan ukuran yang lebih besar. Meski memiliki dua versi, namun sejatinya masing-masing tipe menggunakan Trekker yang sama.

Nhazlisham Hamdan, Street View Ops Lead Google, mengatakan bahwa pihaknya telah memiliki beberapa skuter dan tenaga kerja yang siap merekam gang-gang di Jakarta, dengan operasional sepanjang jam kantor pada umumnya setiap hari kerja. Terkait dengan jumlahnya, ia mengaku tidak menetapkan kuota di tiap kota.

Pihaknya cenderung melakukan penambahan armada dengan menyesuaikan dari kecepatan perekaman di kota tersebut. Hal tersebut juga berlaku untuk jarak yang ditempuh oleh skuter tersebut. Ia tidak mematok berapa jarak yang harus ditempuh sebuah skuter yang dipasangi Trekker, meski ia memperkirakan dapat mencapai 30 kilometer daam sehari.

Untuk skuter yang digunakan merupakan sepeda listrik buatan lokal produksi Tangerang. Skuter tersebut, sebagaimana diakui oleh Nhaz, tidak dimodifikasi dan sesuai dengan apa yang di pasaran. Hanya saja, perlu penambahan bracket yang dipasangkan di bagian belakang untuk meletakkan Trekker pada Skuter tersebut.

"Ini pertama kali Trekker digunakan untuk skuter khusus digunakan pada gang-gang kecil. Biasanya, orang-orang membawanya untuk merekam di pantai, di gunung. Ini benar-benar pertama kali di seluruh dunia," ujar Jason Tedjakusuma, Head of Communication Google Indonesia kepada detikINET ketika dijumpai dalam sebuah kesempatan.



Sampai saat ini, Nhaz dan Jason sepakat untuk menjadikan proyek perekaman jalan-jalan kecil di Indonesia sebagai prioritas utama. Walau begitu, mereka belum tahu tujuan seterusnya di negara mana proyek tersebut mulai diimplementasikan setelah selesai di Indonesia.

"Belum tahu tujuan seterusnya. Kita hanya selesaikan Indonesia dulu karena cukup besar untuk diselesaikan. Banyak yang harus diselesaikan, banyak juga yang belum dicapai oleh Google Street View. Yang penting cover keseluruhan di Indonesia dulu," pungkas Nhaz. (fyk/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed