Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Pembangunan Pusat Riset Microsoft Diwarnai Pro-Kontra

Pembangunan Pusat Riset Microsoft Diwarnai Pro-Kontra


- detikInet

Jakarta - Rencana Microsoft membangun pusat riset di Indonesia, ditanggapi berbagai reaksi. Banyak yang pro, ada juga yang kontra. Berikut tanggapan dari berbagai aktivis dari berbagai komunitas.Kemal Prihatman, anggota tim IGOS dari Kementerian Riset dan Teknologi menanggapi pembangunan pusat riset Microsoft dengan positif. "Selama hal itu bisa berdampak pada peningkatan industri software, saya menyambut baik rencana tersebut," kata Kemal, ketika dihubungi detikinet, Rabu (6/7/2005).Kemal juga mensyaratkan agar rencana pembangunan pusat riset ini ditanggapi pemerintah dengan memberi porsi yang sama terhadap gerakan Indonesia Goes Open Source (IGOS).Malah hal itu dianggap sebagai persaingan sehat antara software open source dengan software proprietary. "Akan semakin kompetitif, asalkan pemerintah fair dalam menyikapi hal ini," tuturnya. Microsoft berencana membangun pusat riset di Indonesia, di kawasan industri Jababeka. Hal tersebut terungkap dalam pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan pendiri Microsoft, Bill Gates, ketika SBY berkunjung ke Amerika Serikat beberapa waktu lalu.Rencana tersebut ditindaklanjuti dengan pembahasan lebih lanjut antara SBY dengan presiden direktur PT. Microsoft Indonesia, Tony Chen. Dalam pertemuan tersebut diungkap, Microsoft dan pemerintah RI akan menandatangani kesepakatan pembangunan pusat pengembangan software di Indonesia.I Made Wiryana sebagai penggiat open source menyatakan pro terhadap rencana pembangunan pusat riset Microsoft di Indonesia. "Saya sih pro saja asal jangan keblinger dan cuma jadi legitimasi buat jualan dan menjerat pasar," ujarnya.David Sudjiman sebagai pihak aktivis dari Kelompok Pengguna Linux Indonesia, secara pribadi juga menanggapi rencana Microsoft dengan positif. Menurutnya, pusat riset itu apabila terealisasi nantinya seperti bantuan intelektual saja."Kalau biasanya terima duit, ini terima fasilitas," ujarnya. David menganggap bantuan itu bisa digunakan untuk 'menyekolahkan' rekan-rekannya di tanah air dengan fasilitas Microsoft. Saat ini David sedang tidak berada di Indonesia. "Nanti idealnya kita bisa punya pilihan untuk menggunakan apapun yang kita mau. Biasanya kemampuan untuk memilih itu kan tergantung kekuatan sumber daya juga," ujarnya.Meskipun ada di pihak pro, David memperingatkan pemerintah untuk berhati-hati dalam menerima bantuan dari pihak Microsoft. "Melihat reputasi si pemberi seperti yang sudah-sudah, hati-hati kan perlu," katanya santai.David berharap bantuan pusat riset bukan hanya sebagai dalih agar Microsoft kelihatan seperti memperhatikan SDM di Indonesia. "Lihat dulu dalam 3-5 tahun, se-significant apa hasilnya. Apa memang perlu mendirikan pusat riset, atau memang bisa dilakukan tanpa pusat riset. Atau pusat riset ini hanya buat topeng saja," tegasnya."Masalah take and give, MS kan paling tahu," ujar David. "Yang penting kalau mau ambil, namanya juga bantuan. Tapi jangan mau dibodohin juga. Siapa tahu sehabis digodok di pusat riset Microsoft, kita malah bisa minterin mereka," katanya.Lain lagi dengan Judith MS, Ketua Presidium AWARI. Dia sendiri secara pribadi menyatakan kontra dengan rencana pembangunan pusat riset Microsoft. Judith menanyakan manfaat bagi masyarakat dari pusat riset tersebut, dan menyayangkan mengapa pemerintah tidak membangun pusat riset bagi pengembangan open source saja."Saya protes dengan kebijakan presiden SBY. Karena kita punya IGOS tapi beliau tidak men-support," kata Judith. "Jujur saja, kalau banyak pihak gembira dengan dibangunnya pusat riset, tetapi tidak saya. Saya sedih dan miris," kata Judith. (nks/)





Hide Ads