Rabu, 14 Mar 2018 09:10 WIB

Ketika Amerika Serikat Jiper dengan China

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: Getty Images Foto: Getty Images
Jakarta - Keputusan pemerintah Amerika Serikat dalam menyudahi transaksi akuisisi Broadcom terhadap Qualcomm mencerminkan betapa takutnya mereka kepada China.

Dengan mempertimbangkan keamanan nasional, pemerintah Amerika Serikat baru saja menyetop usaha Broadcom dalam mengambil alih Qualcomm. Hal tersebut dikarenakan hubungan yang dimiliki Broadcom dengan entitas asal China, yaitu Huawei.

Berdasarkan keterangan sebuah sumber yang dekat dengan pihak Committee on Foreign Investment in the United States (CFIUS), ia berpendapat bahwa jika akuisisi Qualcomm oleh Broadcom berhasil dituntaskan, maka dalam 10 tahun ke depan akan ada pemain dominan yang menguasai teknologi komunikasi perangkat mobile, dengan Huawei menjadi calon paling kuat.

"Setelah fenomena itu terjadi maka para operator asal Amerika Serikat tidak akan punya pilihan lain selain membeli perangkat yang dimiliki oleh Huawei," ia menambahkan.



Huawei sendiri sudah terbilang dominan di China dan siap menjadi pemegang pasar 5G terbesar di dunia sampai saat ini, bersaing dengan nama-nama seperti Ericsson dan Nokia.

Perusahaan yang berbasis di Shenzen, China ini juga sudah semakin mendekati kata sepakat untuk bekerja sama dengan sejumlah operator di beberapa negara asal Eropa dan Asia.

Qualcomm pun juga pemain yang tak kalah besar di sektor 5G. Berdasarkan penelitian dari LexInnova, perusahaan teknologi asal Houston, AS, Qualcomm memegang sekitar 15% dari paten terkait 5G di seluruh dunia, mengalahkan Nokia dengan 11% dan akumulasi seluruh perusahaan asal China sebesar 10%.

Sejumlah produsen ponsel pintar pun mengandalkan Qualcomm dalam menyediakan chip 5G pada akhir 2018 mendatang, agar smartphone yang dapat mengakomodasi teknologi jaringan nirkabel generasi berikutnya tersebut bisa diluncurkan pada 2019.



Jika Qualcomm bergabung dengan Broadcom, bisa dibayangkan kekuatan besar yang bisa dimiliki oleh China dalam menguasai pasar teknologi 5G secara global, sekaligus menjadi ketakutan AS tersendiri.

Keputusan pemerintah Amerika Serikat ini, yang dipimpin oleh instruksi dari Presiden Donald Trump, merupakan pemberhentian proses transaksi kelima yang dilakukan berdasarkan pertimbangan dari CFIUS.

"Segala bentuk transaksi yang meliputi merger, akuisisi, dan pengambilalihan Qualcomm oleh Broadcom, baik secara langsung maupun tidak langsung, telah dilarang," tulis keterangan resmi dalam instruksi Presiden Donald Trump, seperti detikINET kutip dari Reuters, Rabu (14/3/2018). (afr/afr)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed