Senin, 12 Mar 2018 11:12 WIB

Perangi Bot, Twitter Mulai Blokir Sejumlah Akun

Moch Prima Fauzi - detikInet
Ilustrasi. Foto: GettyImages Ilustrasi. Foto: GettyImages
Jakarta - Pada Februari lalu, Twitter mengumumkan kebijakan baru yang melarang tindakan ke arah spamming atau menyebarkan kicauan secara masif dengan menggunakan bot di layanannnya.

Tak lama setelah diumumkan, kebijakan itu kini mendapatkan 'korbannya'. Situs BuzFeed mengungkap sejumlah akun yang telah melakukan retweet secara masif atau meniru kicauan orang lain telah diblokir.

Dikutip detikINET dari The Verge, Senin (12/3/2018), akun yang diblokir memiliki jumlah pengikut (follower) mulai dari ratusan ribu hingga jutaan akun. Akun yang terkena dampak tersebut beberapa di antaranya adalah @dory, @girlposts, dan @ginah.

Sementara saat dimintai keterangan, pihak Twitter menunjukkan kebijakan layanan yang telah dirilisnya pada Februari lalu. Saat itu perusahaan dengan logo burung berwarna biru tersebut memang menargetkan pada akun-akun yang dianggap melakukan spamming.

Twitter pun mengungkap kebijakan barunya pada aplikasi pihak ketiga TweetDeck yang kerap digunakan untuk menyebarkan kicauan secara masif dan terjadwal. Saking populernya, muncul isitilah TweetDecking untuk merujuk pada kegiatan tersebut.

Di pedoman yang dirilis Twitter, aplikasi tersebut tak diizinkan untuk mengicaukan konten yang sama atau secara substansi memiliki kemiripan dengan sejumlah akun. Twitter juga melarang orang-orang untuk menggunakan beberapa akun untuk memberikan like, retweet, maupun mengikuti banyak akun di saat yang sama.

Untuk mencegah kicauan menjadi viral, Twitter pun melarang Tweetdeck dalam penyebaran kicauan serupa dengan hashtag tertentu melalui banyak akun.

Selain itu, pencegahan juga dilakukan melalui larangan pada pengguna yang berusaha menuliskan tweet serupa dengan tujuan untuk masuk dalam daftar trending topic Twitter.

Kebijakan tersebut dilakukan setelah adanya temuan 50 ribu akun yang terafiliasi dengan Rusia yang memengaruhi 700 ribuan orang dalam pemilihan presiden di Amerika Serikat pada 2016.

Ketika itu, Twitter berjanji akan mencegah layanannya dari kegiatan-kegiatan buzzer yang menggunakan sistem serupa bot. (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed