Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Polisi Ngelacak IP
Teroris Cinta Mangkal di Warnet
Polisi Ngelacak IP

Teroris Cinta Mangkal di Warnet


- detikInet

Jakarta - Polisi berhasil menciduk Sri Kusumaningsih (nama samaran yang digunakan oleh pelaku teror), teroris cinta yang mengancam akan mengebom sebuah sekolah di Amerika Serikat. Tempat pelaku melancarkan aksinya terlacak, salah satunya dari Internet Protocol (IP) e-mail. Sri Kusumaningsih jelas peneror amatiran. Dia lupa kalau ancaman terornya ke negeri Bush sangat mudah dilacak dari Internet Protocol (IP), alamat e-mail, stempel surat dan nomor faks. Berbekal itulah polisi mencokok Sri, gadis Medan berumur 20-an tahun. Namun tidak semudah itu membekuk Sri. Polisi butuh waktu sebulan untuk bisa menggiring lulusan diploma III ini ke hotel prodeo.Penangkapan Sri dimulai dari kerja keras aparat kepolisian wilayah Virginia, AS. Polisi setempat menelusuri alamat IP komputer tempat Sri dan Abdul Azis mengirim e-mail terornya. E-mail yang ditujukan kepada sekolah George Mason, Amerika Serikat, berisi ancaman akan menghabisi keluarga Dewa Putu Dirga di Bali, bila Dirga tidak segera pulang ke Indonesia. Dari e-mail tersebut, diketahui kalau Sri mengirim e-mail pada tanggal 21 Januari 2005 dari komputer yang memiliki alamat IP: 202.73.115.140.Pada tanggal 22 Januari 2005, Sri kembali mengirim e-mail ancaman kepada Kathryn melalui komputer dengan nomor IP: 202.153.237.95. Keesokan harinya Kathryn kembali menerima e-mail yang berisi ancaman serupa. Kali ini e-mail berasal dari Abdul Azis dengan alamat ulovemeilovemeyoukillme@yahoo.com. Hasil penelusuran menemukan e-mail tersebut dikirim dari komputer dengan IP: 202.153.239.88.Abdul Azis juga mengirim e-mail pada tanggal 25 Januari 2005. E-mail tersebut berisi ancaman akan meledakkan SMP tempat Kathryn mengajar. Kali ini e-mail disebarkan kepada seluruh murid, guru dan staf sekolah itu. Keesokan harinya, Abdul kembali mengirimkan e-mail serupa. Kedua e-mail dikirimkan melalui komputer dengan IP 202.155.9.177.Abdul Azis dan Sri seolah-olah berperan sebagai pembunuh bayaran yang disewa orang. Padahal kedua nama itu hanyalah rekaan EK, inisial gadis muda yang menjadi otak teror e-mail ini. EK kini dijerat UU Terorisme itu. Untuk menjalankan aksinya, EK memunculkan nama Sri dan Abdul.Kepolisian Virginia segera menemukan bahwa seluruh IP di atas, merujuk kepada beberapa daerah di Jakarta. Polda Metro Jaya segera dikontak pada 3 Februari 2005. Polda bergerak.Beraksi di WarnetSeluruh IP yang digunakan Sri dan Abdul Azis merujuk pada beberapa warnet di wilayah Blok M dan Bintaro, Jakarta Selatan. Dan meski polisi sudah mengantongi IP Address dan domain Sri Kusumaningsih dan Abdul Azis plus tetek bengeknya, tak mudah untuk menangkap sang pelaku. Akhirnya, Polda Metro Jaya pun mencari petunjuk lainnya.Aparat Polda Metro lantas terbang ke Bali. Di Pulau Dewata, keluarga Dirga diperiksa. Mulai dari ayah Dirga, Dewa Putu Sarba, hingga saudara Dirga yang bernama Dewa Komang Arbawa, Desak MD Satriani dan Ngurah Adi WB.Dari hasil pemeriksaan saksi dan isi e-mail yang dikirimkan kepada Dirga dan Kathryn, semuanya mengarah kepada satu nama, yaitu EK. Substansi teror berdasarkan sakit hati.EK pun mulai diintai secara intensif. Polisi mengintai sekitar rumah EK di kawasan Jakarta Selatan. Pengintaian dilakukan tiga hari. "Untuk memastikan apakah rumah tersebut benar rumah EK," kata Kasat Cyber Crime Polda Metro Jaya AKBP Petrus Reinhard Golose kepada detikcom, Jumat (27/5/2005).Polisi juga menyamar. Penyamaran dilakukan untuk memastikan identitas EK. Namun Petrus enggan menjelaskan penyamaran apa saja yang dilakukannya. "Trik menyamar kan bermacam-macam. Bisa menyamar sebagai tukang koran, bisa menyamar sebagai pengirim barang. Macam-macamlah," terang Petrus.Setelah memastikan identitas EK, polisi pun segera memanggil gadis yang lancar berbahasa Inggris itu pada Maret 2005. EK pertama kali dipanggil ke Polda Metro Jaya di Jl Sudirman, sebagai saksi. "Awalnya dia mengelak. Dia merasa tidak bersalah," kata Petrus.Tapi kemudian gadis berkulit putih itu bersedia memenuhi panggilan polisi. "Oke saya akan datang. Akan saya clear-kan semua," kata EK sebagaimana ditirukan Petrus.Namun setelah diperiksa, EK tidak bisa mengelak. Semua bukti, baik dari motivasi teror maupun hasil investigasi berdasar teknologi, mengarah kepada EK. EK pun mengakui perbuatannya. Dia bilang, semuanya dia lakukan semata-mata karena sakit hati ditinggal kawin pujaan hatinya, Dewa Putu Dirga. Kini EK hanya bisa menyesal. Ia ditahan di Rutan Polda Metro Jaya pada tanggal 7 Maret 2005. Hingga kini EK masih meringkuk di sel. Penjara seumur hidup mengancamnya. (dni/)





Hide Ads