2050, Otak Bisa Dipindah ke Komputer?
- detikInet
Jakarta -
Dalam 45 tahun ke depan, perkembangan teknologi bisa mewujudkan impian 'mengawetkan' otak dalam komputer. Perkembangan PlayStation jadi pertanda. Lho kok?Pendapat itu disampaikan oleh Ian Pearson, Kepala Unit Futurologi British Telecom, kepada harian Observer di Inggris. Ia melihat pesatnya perkembangan konsol PlayStation sebagai pertanda. Konsol PS 3 disebutnya berkemampuan 35 kali lebih hebat dari model sebelumnya. "Playstation model baru berkekuatan 1 persen kekuatan otak manusia," kata Pearson pada Observer yang dikutip oleh detikinet Selasa (31/5/20050). "Perangkat tersebut setara dengan super komputer pada 10 tahun yang lalu. Playstation 5 mungkin saja sehebat otak manusia," tambahnya.Pearson mengatakan bahwa teknologi mendownload otak, pada awalnya nanti, mungkin hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya. "Apabila anda cukup kaya, mungkin tahun 2050 sudah memungkinkan. Tapi kalau anda kurang kaya, mungkin anda harus menunggu hingga 2075 atau 2080," papar Pearson.Ia juga menegaskan bahwa pernyataannya bukan main-main. "Kami sangat serius tentang hal ini. Teknologi bergerak dengan sangat cepat. 45 tahun adalah waktu yang sangat panjang dalam dunia teknologi informasi," ujar pemikir masa depan tersebut.Selain itu Pearson juga memprediksi kemungkinan membangun komputer super dengan tingkat kecerdasan melebihi manusia pada awal tahun 2020. Sekarang saja, ia mencontohkan, superkomputer BlueGene dari IBM mempunyai kemampuan komputasi 70,72 triliun per detik.Kesadaran ManusiawiPearson mengatakan target selanjutnya adalah meniru kesadaran manusiawi pada komputer. "Kami sudah meneliti bagaimana struktur komputer bisa punya panca indera kesadaran. Kesadaran tentang rasa dan efektifitas. Hal tersebut yang coba kami desain pada komputer," kata Pearson.Ia mencontohkan jika komputer memiliki kesadaran yang manusiawi maka bisa muncul komputer untuk pesawat terbang yang 'takut jatuh'. Dengan demikian komputer itu akan melakukan segala upaya untuk mencegah jatuhnya pesawat tersebut. Tapi, bagaimana kalau pesawat itu jadi mogok terbang atau takut ketinggian?Pearson mengakui bahwa konsekuensi dalam mengembangkan sebuah teknologi pasti ada dan perlu dipertimbangkan dengan sangat hati-hati. "Anda perlu mengadakan debat secara global. Seberapa perlunya kita membangun mesin sepintar manusia," tegas Pearson.Sampai saat ini apa yang dikatakan Pearson masih sebatas prediksi. Perkembangan selanjutnya dalam dunia komputer bisa saja membuktikan kebenaran ucapannya, atau justru menyangkalnya. Lihat saja nanti.
(wsh/)