Rilis Messenger untuk Anak-anak, Facebook Dikritik Keras

Rilis Messenger untuk Anak-anak, Facebook Dikritik Keras

Muhammad Alif Goenawan - detikInet
Jumat, 02 Feb 2018 09:37 WIB
Messenger Kids. Foto: Facebook
Jakarta - Bulan Desember 2017 kemarin, Facebook merilis Messenger Kids yang diklaim ramah terhadap anak-anak. Namun aplikasi messaging ini mendapat tentangan dari advokat kesehatan anak.

Sekadar informasi, Messenger Kids ini ditujukan untuk anak-anak dengan rentang usia enam sampai 12 tahun. Pesan instan ini memungkinkan anak-anak untuk mendaftar dan menggunakannya tanpa memiliki akun Facebook.

Hal ini berdasarkan ketentuan bahwa anak di bawah usia 13 tahun belum diperkenankan bergabung dalam jejaring sosial Facebook. Karenanya, biasanya orangtua yang mengatur segalanya sebelum dipakai sang anak.

Meski begitu, lebih dari 100 advokat kesehatan anak, pakar pengembangan, pengajar, grup advokat, dan orangtua meminta agar Facebook menutup aplikasi ini, seperti dikutip detikINET dari Ubergizmo, Jumat (2/2/2018).

Seruan ini telah diajukan kepada CEO Facebook Mark Zuckerberg melalui sebuah surat terbuka yang isinya memberi peringatan bahwa aplikasi tersebut berbahaya terhadap anak dan remaja. Menurut mereka, Messenger Kids bisa merusak perkembangan anak.

Dengan Messenger Kids, orangtua bisa membuatkan akun untuk anaknya dengan harapan bisa tetap menjalin komunikasi. Anak tersebut bisa menggunakan video dan alat GIF di dalam chat dan bahkan juga bisa melakukan panggilan terhadap kontak yang sudah disetujui.

Pada saat peluncuran, Facebook mengatakan tidak akan menampilkan iklan apapun di dalam aplikasi, begitupula tidak akan ada sistem pembayaran di dalamnya. Anak-anak pun tak memerlukan nama asli untuk menggunakan layanan.

Walau demikian, tindakan itu tetap dinilai tak cukup. Messenger Kids lebih banyak dampak negatifnya, antara lain membuat anak terpaksa bergabung ke jejaring sosial karena tekanan teman sebaya yang memakai aplikasi itu.

"Anak-anak sama sekali belum siap memiliki akun media sosial. Mereka juga tidak memiliki pengertian penuh terhadap privasi, termasuk apa yang sesuai untuk dibagikan pada orang lain, dan siapa yang memiliki akses ke percakapan, gambar, serta video mereka," tulis surat tersebut. (mag/fyk)