Jumat, 12 Jan 2018 09:19 WIB

Fenomena Pemuda Jepang Bersembunyi dan Cuma Ngenet di Kamar

Fino Yurio Kristo - detikInet
Ilustrasi. Foto: istimewa Ilustrasi. Foto: istimewa
Tokyo - Angka bunuh diri di Jepang termasuk tertinggi di dunia. Sampai-sampai ada hutan yang jadi favorit untuk bunuh diri yaitu Aokigahara, tempat YouTuber Paul Logan dikecam habis karena merekam mayat. Lalu, kenapa di negara semaju Jepang angka bunuh diri justru tinggi?

Pada tahun 2014 misalnya, 25 ribu orang di Negeri Sakura itu bunuh diri. Beberapa faktor jadi penyebab. Seperti karena tradisi di mana sudah dilakukan sejak zaman samurai, tekanan finansial, sampai karena merasa terisolasi.

Ya, banyak orang di Jepang terisolasi terutama anak muda yang suka mengunci diri di kamar dan pekerjaannya hanya akses internet, ngegame atau baca komik. Mereka benar-benar tak mau berhubungan dengan dunia luar. Tahun 2010, disebutkan ada sekitar 700 ribu pemuda Jepang memiliki masalah ini dengan umur rata-rata 31 tahun.

Disebut sebagai Hikikomori, mereka ini punya masalah sosial berat sehingga mengunci diri di kamar, bisa selama bertahun-tahun. Salah satu yang sempat menderita masalah ini adalah Dr Takahiro Kato yang kini bekerja untuk mencegah anak muda mengalaminya.

Dia mengatakan para pecandu internet ini, yang kebanyakan tidak lagi berhubungan dengan keluarga dan temannya, sebagian adalah anak pintar.

Contohnya sebut saja Yuto Onisihi. Bayangkan saja, ia pernah tiga tahun tidak meninggalkan kamar hanya untuk akses internet dan membaca komik manga. Ia akhirnya menyadari punya masalah dan berkonsultasi untuk menyembuhkannya ke pakar terkait.

Siang dan malam dia hanya menjelajah internet dan tidak berbicara pada siapapun. Dia sepertinya depresi sejak SMP karena merasa gagal menjadi ketua kelas.

"Jika kamu sudah mengalami hal seperti ini, kamu kehilangan realitas. Aku tahu ini hal abnormal tapi aku dulu tidak mau mengubahnya. Soalnya terasa aman di dalam sini," katanya.

Penyebab Hikikomori

Kementerian Kesehatan Jepang mendefinisikan hikikomori sebagai orang yang tidak berpartisipasi di masyarakat, baik belajar atau bekerja, dan tidak memiliki hubungan erat dengan keluarganya. Kondisi ini harus berjalan sedikitnya enam bulan.

Diyakini masalah hikikomori ini cukup parah di Jepang. Salah satu penyebabnya, ekspektasi kesuksesan yang tinggi menimbulkan tekanan pada anak muda dan mereka merasa malu kalau mengalami kegagalan.

Kebanyakan hikikomori tinggal di rumah orang tuanya dan kebutuhan hidup masih dipenuhi ayah ibunya. Dr Kato mengatakan terapi sangat dibutuhkan untuk mereka.

Perawatan bagi mereka misalnya meningkatkan kemampuan komunikasi. Soalnya banyak yang tidak mau berbicara pada orang lain seama bertahun-tahun.

Tapi masalahnya, banyak hikikomori yang tidak mau berkonsultasi dan sudah nyaman dengan keadaannya. Maka masalah ini bisa semakin serius karena penderitanya menjadi tidak produktif, berujung depresi atau bisa berdampak pada perekonomian Jepang di masa depan. (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed