Kamis, 04 Jan 2018 10:20 WIB

Serba Serbi Monero, Pesaing Bitcoin yang Jadi Favorit Hacker

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Ilustrasi. Foto: istimewa Ilustrasi. Foto: istimewa
Jakarta - Perkembangan pesat yang ditorehkan mata uang digital atau cryptocurrency dalam setahun terakhir membuat tiap orang semakin menggebu-gebu untuk memburunya, termasuk para hacker.

Europol, lembaga pelaksanaan hukum di Uni Eropa, memperingatkan bahwa terdapat beberapa cryptocurrency tengah meroket popularitasnya dengan menyisir 'dunia bawah tanah' internet. Salah satu yang paling mengundang perhatian adalah Monero, privacy coin yang didesain menghindari segala bentuk pelacakan yang mengarah kepadanya.

Beberapa studi, seperti dari Chainalysis, firma analis teknologi Blockchain, menunjukkan bahwa privacy coin seperti Monero dapat mengarah pada kegiatan kriminal seperti pencucian uang.

Mata uang digital yang didirikan pada 2014 ini memang sangat berbeda dengan cryptocurrency pada umumnya, sebut saja Bitcoin sebagai contoh.

Monero dapat melakukan enkripsi pada alamat penerima di dalam sistem Blockchain untuk memalsukannya dengan tujuan mengaburkan identitas pihak pengirim, sekaligus jumlah transaksi yang dilakukannya.

Berbeda dengan Bitcoin yang menggunakan teknologi Blockchain untuk menyimpan data-data seperti alamat penerima serta transaksi, dengan waktu dan jumlah yang akurat.

"Dengan teknik tersebut, segala kegiatan konversi, baik dari tunai ke Monero maupun sebaliknya, akan menimbulkan risiko besar," ujar Pawel Kuskowski, CEO Coinfirm, seperti detikINET kutip dari Bloomberg pada Kamis (4/1/2018).

"Risiko tersebut muncul karena mereka (Monero) membuat uang menjadi anonim. Bagaimana bisa hal ini membuat orang-orang beranggapan bahwa transaksi yang dilakukan di dalamnya dilakukan oleh pihak-pihak terpercaya?" katanya menambahkan.

Favorit Para Hacker

Dengan menganut cara kerja tersebut, Monero pun dengan cepat digemari oleh para pemeras daring, yang menggunakan ransomware untuk mengunci komputer korbannya sampai mereka menyelesaikan transaksi.

"Monero menjadi salah satu favorit para hacker yang gemar menyerang dengan ransomware," ucap Matt Suiche, Founder Comae Technologies.

Beberapa serangan hacker pun sempat tercatat sepanjang 2017, dengan Monero sebagai tujuan utama untuk diraih bagi para penyerang.

Seperti kemunculan Digmine, malware yang menyamar menjadi semacam file video, dan hanya akan menyebar ke Facebook Messenger versi desktop, tepatnya ketika dibuka menggunakan browser Google Chrome, untuk menambang Monero.

Lalu, kelompok hacker bernama Andariel, yang berasal dari Korea Utara, menguasai server sebuah perusahaan yang digunakan untuk menambang 70 koin Monero pada Musim Panas 2017.

Satu koin Monero sendiri sekarang setara dengan USD 411 (Rp 5,5 Juta). Jika dijumlahkan, maka Andariel berhasil mendapatkan uang senilai Rp 388 Juta.

Kemudian, pada 18 Desember 2017, Wodfence mencatat terdapat serangan pada 190 ribu situs WordPress per jam sebagai usaha untuk menghasilkan Monero.

Parahnya lagi, Avast mengungkapkan bahwa JS-Miner-I, trojan yang memanfaatkan komputer penggunanya untuk menambang Monero dengan menyamar sebagai perpanjangan Google Chrome, bisa melancarkan 34,7 juta serangan hanya dalam waktu satu hari. (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed