Minggu, 31 Des 2017 18:08 WIB

2018, Jokowi Diminta Pakai Medsos Karya Anak Bangsa

Muhammad Alif Goenawan - detikInet
Foto: Rusman - Biro Pers Setpres Foto: Rusman - Biro Pers Setpres
Jakarta - Tak dipungkiri, media sosial yang banyak dipakai oleh masyarakat Indonesia kebanyakan masih berasal dari luar negeri. Agar tak kalah saing, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan petinggi negara lainnya diminta untuk ikut andil dalam mempromosikan media sosial karya anak bangsa.

Pendapat ini disampaikan oleh Direktur Eksekutif Komunikonten (Institut Media Sosial dan Diplomasi), Hariqo Wibawa Satria. Menurut Hariqo pengguna media sosial di Indonesia salah satu yang terbesar di dunia. Facebook sendiri Indonesia menempati posisi ke empat setelah Amerika, India dan Brazil.

Namun, di antara media sosial yang dipakai, media sosial buatan anak bangsa masih sedikit yang melirik. Karenanya, diperlukan peran tokoh-tokoh ternama untuk bantu mempromosikan karya anak bangsa tersebut.

"Dulu Presiden Jokowi pernah mempromosikan mobil Esemka karya anak bangsa. Sekarang saatnya tokoh-tokoh yang memiliki banyak pengikut, seperti Jokowi, Jusuf Kalla, Megawati, Prabowo, Zulkifli Hasan, Anies Baswedan, para Kiai, Pimpinan Muhammadiyah, NU, dan lainnya juga menggunakan serta mempromosikan media sosial karya anak bangsa," ujarnya dalam keterangan email, Minggu (31/12/2017).

Hariqo Wibawa.Hariqo Wibawa. Foto: Direktur Eksekutif Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria. (Dok. Elvan/detikcom).

Sedikitnya ada dua tingkatan di internet menurut Hariqo, yakni pengusaha media sosial dan pengguna media sosial. Penduduk Indonesia menurut Hariqo umumnya pengguna media sosial karya bangsa lain.

"2018 kita harus bangkit. Sudah banyak media sosial lokal karya anak bangsa, tinggal diseleksi mana yang paling potensial untuk dikembangkan, kemudian mengarahkan investor lokal untuk berinvestasi," paparnya.

Menurut Hariqo, yang penting para pemimpin berani menggunakan dan mempromosikan dulu. Memang ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap media sosial asing cukup tinggi.

Media sosial karya bangsa lain tidak saja memudahkan urusan masyarakat, namun juga telah memberikan penghasilan kepada masyarakat Indonesia, seperti yang sudah diperoleh para Youtuber dan lainnya.

"Orang akan enggan diminta menggunakan media sosial hanya dengan alasan ini karya anak bangsa. Karenanya media sosial karya anak bangsa juga harus berkualitas. Untuk menuju ke situ perlu kolaborasi, karena isu di media sosial bukan semata soal keamanan dan kreatifitas, namun juga gotong royong", terang Hariqo.

Untuk melawan kreativitas, lanjut Hariqo, diperlukan kreativitas. Anak-anak muda dirasa perlu mendapat dukungan, sebagaimana pemerintah Amerika Serikat mendukung Facebook, Instagram, Google, Youtube, dan medsos buatan negaranya sendiri.

Terlalu sering menggunakan media sosial buatan asing dirasa akan memberikan beberapa dampak negatif. Hariqo melihat pemerintah kewalahan atau tidak bisa cepat menghapus konten-konten yang merugikan kepentingan nasional seperti promosi LGBT, gerakan separatisme, radikalisme, hingga HOAX di media sosial.

Sementara bila menggunakan media sosial buatan dalam negeri, keuntungan yang bisa didapat menurut Hariqo adalah soal iklan, uang dan data. Hal ini berkaca pada Facebook yang mendapatkan banyak keuntungan dari Indonesia.

"Mereka mendapatkan data, baik yang statis maupun bergerak. Mereka mendapatkan uang dari berbagai iklan. Nah, jika Indonesia punya media sosial yang digunakan banyak orang, Indonesia bisa meminimalisir uang keluar. Sekarang saja sudah banyak kementerian, lembaga negara, pemerintah daerah yang bayar iklan kepada Facebook," pungkas Hariqo. (mag/mag)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed