Kamis, 30 Nov 2017 16:06 WIB

Hapus Akun Donald Trump, Ini Penjelasan Karyawan Twitter

Rachmatunnisa - detikInet
Foto: Istimewa/Internet Foto: Istimewa/Internet
Jakarta - Akun resmi milik Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat menghilang dari jagat Twitter. Adalah Bahtiyar Duysak, yang dianggap paling bertanggung jawab atas insiden ini.

Dikutip detikINET dari CNN, Kamis (30/11/2017), pria 28 tahun ini menyebut dirinya sebagai orang biasa. Dia lahir di sebuah kota kecil di Jerman dan mengagumi Amerika Serikat (AS) sebagai negara terbaik di dunia.

Dia punya hobi di bidang otomotif dan senang berolahraga. Waktu senggangnya sering digunakan untuk menjadi relawan. Namun sebulan yang lalu, dia mendadak menjadi perbincangan banyak orang.

Dia melakukan sesuatu yang dinilai publik luar biasa, yakni mencabut eksistensi akun Trump dari Twitter selama 11 menit.

Twitter menyebutkan insiden ini terjadi karena keteledoran karyawannya dan dengan cepat mengembalikan akun milik orang nomor satu di AS tersebut.

Netizen pun bergejolak menanggapi hilangnya akun tersebut. Cukup banyak yang senang dan menganggap karyawan Twitter yang menghilangkannya sebagai pahlawan. Apalagi, Trump dinilai banyak memposting tweet berisi hinaan, kesombongan, hingga informasi keliru.

Namun tak sedikit pula kritikan menghujani, menyebut betapa rapuh dan rawan dibobolnya keamanan akun Twitter Trump.

Cabut Akun Donald Trump, Karyawan Twitter Ini Jadi Omongan Bahtiyar Duysak (Foto: CNN)



Menanggapi kehebohan ini, Duysak yang bekerja secara kontrak di Twitter saat kejadian berlangsung, meluruskan bahwa insiden ini bukan sebuah kesengajaan seperti yang diduga banyak orang.

"Saya melakukan kesalahan, saya akui itu. Namun ini bukan sesuatu yang saya rencanakan. Itu (akun Twitter Trump) ada di depan saya, dan saya tidak melakukan pekerjaan dengan baik, tidak saya cek ulang," ujarnya.

Duysak menolak merinci bagaimana dirinya bisa tidak sengaja mencabut akun Twitter Trump, Yang jelas, Duysak berupaya keras membela diri bahwa dirinya tidak melakukan sesuatu yang melanggar hukum.

"Saya yakin 100% tidak melakukan perbuatan ilegal. Saat itu merupakan hari yang sibuk. Anda pusing dan kelelahan. Kami bukan mesin dan kesalahan semacam ini bisa terjadi," ujarnya.

Berdasarkan kabar beredar saat kejadian, karyawan Twitter bersangkutan sudah mau keluar dari Twitter dan disebut-sebut memanfaatkan hari terakhirnya bekerja untuk menghapus akun Trump.

"Penyebutan secara spesifik 'orang yang memanfaatkan hari terkahirnya bekerja' membuat saya sedikit gugup. Saya langsung tahu karena saya adalah satu-satunya orang yang akan selesai bekerja di Twitter hari itu," kenangnya.

Duysak juga membantah insiden ini terjadi karena dirinya membenci Trump. Sebaliknya, dia mengaku mengagumi kesuksesan Trump sebagai pebisnis. Lagipula menurutnya, pekerjaannya mengharuskan dirinya bersikap profesional dengan tidak melibatkan pandangan politik. (rns/rou)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed