Kamis, 16 Nov 2017 16:59 WIB

Menteri Darmin Buka-bukaan Soal Hambatan Ekonomi Digital

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: Ardan Adhi Chandra Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai sektor ekonomi digital di Indonesia masih memiliki halangan besar. Mulai dari sisi infrastruktur hingga kebiasaan pengguna di internet.

Ditemui dalam acara Digital Economic Briefing 2017, Darmin mengatakan bahwa infrastruktur, regulasi, serta struktur industri menjadi penghalang utama bagi pertumbuhan ekonomi digital, terutama e-commerce.

"Untuk itu, pemerintah menyiapkan proyek Palapa Ring yang terdiri dari Paket Barat, Paket Tengah, dan Paket Timur yang meliputi 57 kabupaten/kota non-komersil," ujarnya.

Dia menambahkan Paket Barat yang meliputi seluruh kawasan di Kepulauan Riau akan rampung pada awal 2018. Sedangkan Paket Tengah (Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara) serta Paket Timur (Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Papua Barat) akan selesai pada akhir 2018 dan 2019.

"Jika sudah selesai, nantinya fasilitas dan kecepatan internet di seluruh Indonesia akan sama rata. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat menggunakannya, terutama dalam dunia usaha sehingga dapat memajukan perekonomian digital," dia menuturkan.

Konsumsi Internet

Selain itu, Darmin juga mengatakan bahwa halangan juga ditimbulkan dari sektor sisi masyarakat itu sendiri, terutama dalam konsumsi internet.

"Demand dari masyarakat masih belum di sektor produktif. Kebanyakan masih di hal-hal yang sifatnya leisure. Kalo dari supply-nya, talentanya yang masih kurang, seperti untuk urusan coding dan programming," katanya.

Namun, dia mengakui bahwa Indonesia mengalami situasi ekonomi digital secara natural, bukan karena paksaan maupun tekanan.

"Kita tidak berada di situasi yang tertekan untuk ekonomi digital, bahkan kita sangat adaptif. Hal tersebut terlihat dari jumlah smartphone sangat banyak, bahkan bisa lebih banyak dari jumlah penduduk itu sendiri," paparnya.

Hal tersebut pun berdampak pada penjualan e-commerce yang naik sekitar 30 kali lipat dari Januari 2014 sampai dengan Juni 2017, berdasarkan data yang ia rangkum dari BCA Research Team.

Efeknya, pertumbuhan industri ritel pun menurun menjadi 10,5% tahun ini. Padahal, dalam lima tahun terakhir, industri ini konsisten mencatat pertumbuhan pada kisaran 12,5%.

Meskipun begitu, bukan berarti sektor e-commerce tidak memiliki halangan tersendiri. Baginya, pasar online ini butuh sebuah agregator yang dapat menghubungkan antara marketplace dengan penjual konvensional, terutama UMKM.

Agregator sendiri memiliki kemampuan dalam memastikan kualitas serta meningkatkan kapabilitas yang memenuhi standar.

"Jadi e-commerce di Indonesia akan mengalami percepatan dalam usahanya untuk bersaing secara global," pungkasnya.

(rns/rou)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed