Rabu, 08 Nov 2017 10:10 WIB

Amplifive

Rela Tunda S2 di Paris demi Bikin Startup Guru Privat

Josina - detikInet
Foto: 1000 Startup Digital Foto: 1000 Startup Digital
Jakarta - Caroline Samosir merupakan wanita di balik berdirinya sebuah startup bernama Ajarin. Ia mendirikan Ajarin untuk membantu para orangtua mengembangkan bakat anak-anak rentang usia 4-11 tahun. Caranya dengan menyediakan guru privat kompeten di bidangnya sekaligus untuk mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia.

Dikisahkan Caroline, awal mula konsep Ajarin sebenarnya merupakan sebuah judul untuk tesis S2-nya di Universite Paris Nord, Prancis. Namun karena kuliah di jurusan Inovasi Komunikasi, ia diharuskan membuat tugasnya tersebut berkaitan dengan digital dan startup.

Pada tahun 2016, ia melihat ada iklan tentang Gerakan Nasional 1000 Startup Digital yang diprakarsai oleh Kibar dan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Maka, ia pun mencoba mendaftar.

Tak disangka setelah mendaftar, hasilnya Caroline bisa lolos sampai tahap akhir inkubasi yang membuatnya membuat keputusan besar. Yaitu memutuskan menunda kuliah S2-nya.

"Aku sedang mencari beasiswa untuk tahun kedua kuliah dan buka website kominfo ada iklan gerakan nasioanl 1000 startup. Awalnya iseng saja daftar karena mau lihat sebenarnya valid tidak masalah dan solusinya. Eh ternyata lolos terus. Akhirnya postpone saja S2-nya," ujar gadis kelahiran 30 Oktober 1992 ini.

[Gambas:Video 20detik]


Datangnya ide ini didasarkan keinginan Oline, sapaan akrabnya, yang ingin mengurangi jumlah pengangguran berkualitas di Indonesia. Berkualitas disini menurut Oline, rata-rata penggaguran adalah dari tingkat strata satu yang memiliki kemampuan untuk dimanfaatkan dan menguntungkan.

"Mereka punya skill lain yang sebenernya bisa bikin keuntungan buat diri dia sendiri. Dari situ aku langsung mikir, kalo mereka ngajar skill yang mereka punya sebenernya kan bagus apalagi kalo ngajarnya untuk anak-anak, pasti mereka lebih confident," tambahnya.

Setelah melewati suka duka mulai dari ditinggal kabur anggota tim tanpa kabar, proses mentoring hingga peredebatan panjang dalam satu tim, bulan Maret 2017 Ajarin akhirnya dapat meluncurkan versi website dan mendapat respon yang baik. Hal tersebut membuat mereka makin solid. Untuk mobile ditargetkan Oline, bulan Desember sudah meluncur.

"Suka dukanya saat ditinggal 2 orang dalam tim karena mereka yang memegang koding website dan tidak bisa dihubungi, lalu debat panjang untuk website. Tapi itu tim yang sekarang jadi makin solid, karena masalah dan perbedatan itu akhirnya menyatukan pikiran kita," ujar Oline yang kini merambah dunia kuliner.

Keputusannya menunda kuliah S2 pun berbuah manis, kini Ajarin telah memiliki 350 tenaga pengajar yang siap membantu para orangtua untuk membimbing anak-anaknya.

"Walaupun aku melewatkan beberapa beasiswa, aku tidak merasa menyesal. Semoga tidak akan ada perasaan itu, walaupun keluarga sih pada nge-dumel kenapa malah postpone, tapi keluarga inti sih tetap mendukung," tambahnya.

Berbicara soal harga, Oline mengatakan paling murah dibanderol Rp 75 ribu - 120 ribu. Pihak Ajarin mengambil komisi 10%. Harga ini masih berdasarkan tarif yang diberikan sang guru, kedepannya Oline berharap bisa ditekan lagi karena Ajarin pun mengincar anak-anak kelas menengah ke bawah.

Menjadi salah satu yang aplikasi terpilih di ajang Amplifive, ia merasa semakin terpacu untuk merealisasikan Ajarin secepat mungkin via online, dan juga lebih termotivasi karena dapat masukan dari para mentor.

Menurutnya perkembangan startup di Indonesia cukup baik dan pesat banget. Anak muda seakan berlomba memberikan solusi digital. Walau banyak juga start up yang tumbang.

"Harapannya untuk para startup lain adalah para founder itu harus saling mendukung satu sama lain, minimalisir kata kompetitor, karena semakin banyak startup seharusnya memberikan dampak yang baik juga untuk negara," pungkasnya. (rns/rns)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed