Senin, 06 Nov 2017 17:28 WIB

Heboh Konten Porno, Jangan Cuma WhatsApp yang Diblokir

Rachmatunnisa - detikInet
Ilustrasi (Foto: Adi Fida Rahman/detikINET) Ilustrasi (Foto: Adi Fida Rahman/detikINET)
Jakarta - Animasi GIF pornografi tak hanya bisa ditemukan di WhatsApp. Layanan chat lainnya, dan juga media sosial seperti Twitter dan Facebook, memungkinkan kemunculan animasi GIF pornografi dengan metode pencarian yang sama. Karenanya, pemerintah diminta agar adil, tak hanya menindak WhatsApp.

Dikatakan pengamat keamanan cyber dari Vaksincom Alfons Tanujaya, situasi ini memang polemik yang memusingkan, mengingat WhatsApp dan layanan media sosial (medsos) lainnya harus menyediakan konten untuk seluruh dunia.

"Budaya tiap negara berbeda-beda. Ini jadi PR (pekerjaan rumah)-nya WA dan messaging lainnya. Tapi kalau ingin dilakukan penindakan, harus diterapkan adil. Bukan WhatsApp saja. Kan ada Line, Telegram, WeChat, Facebook Messenger, Twitter dan lainnya," kata Alfons saat berbincang dengan detikINET, Senin (6/11/2017).

Saksikan video 20detik tentang sanggahan WhatsApp di sini:

[Gambas:Video 20detik]

Alfons meminta pemerintah bersikap pro aktif dan tidak reaktif. Jangan sampai karena sesuatu yang sedang viral, baru kemudian dilakukan tindakan.

"Harusnya sudah punya ketentuan dan nilai sesuai dengan kondisi Indonesia yang harus dipatuhi penyedia layanan untuk orang Indonesia. Jadi alangkah baiknya kalau bisa pro aktif. Kalaupun harus reaktif usahakan adil dan jangan pada layanan tertentu saja," sebutnya.

Roadmap dan dasar nilai sesuai budaya lokal yang ingin diterapkan pada aplikasi yang dipakai orang Indonesia, secara teknis menurut Alfons, bisa bermacam-macam.

"Misalnya messaging memberikan fitur parental control, fitur membatasi GIF atau konten dewasa, yang saat ini kan masih belum tersedia," paparnya.

Kesiapan aplikasi lokal

Jika sampai WhatsApp diblokir, menurutnya perlu kesiapan industri layanan digital lokal. Lagi-lagi, China menjadi contoh untuk urusan ini.

"China, itu contoh ekstrem. Kalau China berani blokir total, mereka sudah siap. Industri kreatif dan apps-nya tumbuh luar biasa tanpa Google, Facebook, WhatsApp. Itu hasil blokir ekstrem negara yang sudah punya roadmap jelas dan tidak reaktif, dengan dukungan dana pemerintah dan kebijakan yang memihak apps lokal," terangnya.

Di balik ketat dan ekstremnya aturan China yang sering menuai kritikan dari sejumlah negara lain, menurut Alfons, ada hikmah didapat. Penggunaan aplikasi lokal mempermudah kontrol terhadap konten yang berseliweran.

"Jadi kalau aplikasi lokal yang berjaya di negeri sendiri, kalau ada konten macam-macam, komunikasinya jauh lebih mudah dan cepat daripada aplikasi internasional," katanya.

Peran orangtua menurutnya jadi upaya nomor satu untuk meminimalisir paparan konten pornografi terhadap anak-anak di WhatsApp dan layanan medsos lainnya. WhatsApp sendiri, menurut pengamatan Vaksincom, sudah berusaha membatasi konten berbahaya.

"Mungkin kalau nilai barat sudah tidak mengganggu, tapi menurut orang timur masih mengganggu. Menurut hemat kami, paling baik orangtua memberikan pendidikan moral yang baik pada anaknya. Mau diblokir seperti apa juga, kalau anaknya mau cari, ada 1.001 cara mendapatkan konten pornografi di internet. Gunakan parental control bisa jadi alternatif," tutupnya. (rns/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed