Kamis, 19 Okt 2017 12:58 WIB

Kisah Pemuda Drop Out yang Samai Kekayaan Donald Trump

Fino Yurio Kristo - detikInet
Evan Spiegel dan Miranda Kerr. Foto: Kevork Djansezian Evan Spiegel dan Miranda Kerr. Foto: Kevork Djansezian
Jakarta - Di Indonesia, layanan messaging Snapchat kalah tenar dibanding WhatsApp atau Line. Tapi di mancanegara, Snapchat amat populer, bahkan sempat ditawar tinggi oleh Facebook dan telah melantai di bursa saham. Apalagi pendirinya, Evan Spiegel, nikah dengan supermodel Miranda Kerr.

Berkat Snapchat pula, Evan yang baru 27 tahun kaya luar biasa. Ia masuk daftar 400 orang terkaya di Amerika Serikat versi Forbes. Kekayaannya kini sama persis dengan Presiden AS Donald Trump, yaitu sebesar USD 3,1 miliar atau setara Rp 41,2 triliun.

Evan memang berasal dari keluarga kaya, tapi itu tidak bisa mengecilkan perjuangannya menjadi orang sukses. Ibunya lulusan Harvard dan ayahnya kuliah di Yale, dua kampus sangat bergengsi di Amerika Serikat. Keduanya berprofesi sebagai pengacara. Ya sudah pasti kaya.

Evan dibesarkan di selatan California, di rumah mahal dekat pantai seharga USD 2 juta. Orang tuanya memiliki beberapa mobil mewah. Ia belajar menyetir dengan mobil Cadillac Escalade.

"Aku masih muda, berkulit putih dan berpendidikan tinggi. Aku sangat sangat beruntung. Dan hidup ini memang tidak adil," katanya dalam sebuah kesempatan. Sayang, orang tuanya bercerai.

Evan sudah gemar dengan teknologi sejak kecil. Saat SMA, dia banyak menghabiskan waktu di laboratorium komputer, mengutak atik Photoshop, dan merakit komputer sendiri. Ya, semacam pria geek. "Teman dekatku adalah guru komputer, namanya Dan," tutur Evan.

Kelahiran Snapchat

Evan diterima kuliah di Stanford University jurusan desain produk. Di sana, ia kenalan dengan teman kampus bernama Bobby Murphy. "Kami tidak dianggap keren. Jadi kami mencoba membuat sesuatu untuk jadi keren," kata Murphy.

Suatu hari, Reggie Brown, teman kampus mereka, masuk ke kamar Evan. Dia curhat tentang foto yang terlanjur terkirim pada seseorang. "Kuharap ada aplikasi yang bisa untuk mengirim foto yang kemudian foto itu dapat hilang sendiri," katanya.
Kisah Pemuda Drop Out yang Samai Kekayaan Donald TrumpIlustrasi Snapchat. Foto: Istimewa

Evan menyebut kalau Brown menggagas ide fantastis. Malam itu juga, mereka langsung mencari developer untuk membuat aplikasi semacam itu. Maka ditunjuklah Murphy yang baru saja lulus.

Mereka menggarap serius proyek ini. Murphy ditunjuk sebagai Chief Technology Officer, Brown menjadi Chief Marketing Officer dan Evan menjadi Chief Executive Officer.

Mereka rajin menunjukkan produk ke investor potensial. Brown menamakan aplikasinya sebagai Picaboo dan Murphy bekerja keras agar prototipenya bekerja dengan baik. Sayang, tak banyak investor tertarik. Mereka pikir, siapa yang akan mengirim foto yang akan hilang sendiri?

Kenyataan itu tak membuat mereka mundur. Versi pertama Picaboo akhirnya debut di App Store pada 13 Juli 2011. Picaboo lantas berubah nama menjadi Snapchat. Tapi proyek ini tak juga berhasil. Alhasil Evan kembali kuliah dan Murphy bekerja di tempat lain.

Pertolongan datang dari investor bernama Jeremy Liew setelah mendengar Snapchat mulai populer. Jeremy berinvestasi USD 485 ribu, membuat Snapchat bernilai USD 4,25 juta. Evan senang bukan kepalang produknya diguyur uang. "Itu adalah perasaan terbaik yang pernah kurasakan," katanya.

Snapchat lalu berkantor di rumah ayah Evan dan mulai mempekerjakan puluhan pegawai. Begitulah singkat cerita, Snapchat makin tak terbendung dan saat ini menjadi salah satu layanan messaging terpopuler.

Mereka sudah mengumpulkan pendanaan ratusan juta dolar dan mulai melakukan strategi monetisasi melalui iklan. Sebelum akhirnya memutuskan langkah besar dengan berjualan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) pada pertengahan tahun ini.
Kisah Pemuda Drop Out yang Samai Kekayaan Donald TrumpIPO Snapchat. Foto: istimewa

Popularitas Snapchat sebenarnya pernah membuat Facebook kepincut. Kabarnya, Mark Zuckerberg sempat menawar Snapchat senilai USD 3 miliar. Jumlah yang begitu besar. Tapi Evan tak silau dan menolaknya.

Oh ya seperti beberapa miliuner teknologi, Evan akhirnya tidak lulus kuliah alias drop out dari Stanford. Padahal tinggal sedikit lagi ia selesai. Tapi ya begitulah, hidup adalah pilihan.

Lagipula sekarang ia sudah sukses besar. Dan menikah pula dengan Miranda Kerr, model cantik asal Australia yang mempesona. Hebat, Evan. (fyk/rns)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed