Selasa, 10 Okt 2017 14:02 WIB

Soal Eurofighter Typhoon, Jet Canggih yang Diklaim Dwi Hartanto

- detikInet
Eurofighter Typhoon. Foto: Getty Images Eurofighter Typhoon. Foto: Getty Images
Jakarta - Dwi Hartanto, seorang mahasiswa doktoral di Technisse Universiteit Delft Belanda berbohong soal berbagai hal. Salah satunya ikut mengembangkan teknologi pesawat tempur Eurofighter Typhoon generasi ke-6.

Tentu pada awalnya, klaim itu membuat banyak orang berdecak kagum. Soalnya Eurofighter Typhoon itu termasuk jet tempur tercanggih di dunia dan banyak dioperasikan oleh Angkatan Udara di negara-negara Eropa.

Eurofighter adalah jet tempur yang dikembangkan mulai tahun 1983 melalui program Future European Fighter Aircraft. Ia merupakan hasil kolaborasi multinasional dari negara-negara maju di Eropa, yakni Inggris, Jerman, Prancis, Italia, dan Spanyol.

Dalam perjalanannya, Prancis terpaksa mengundurkan diri karena perselisihan soal wewenang desain dan persyaratan operasional dalam konsorsium. Mereka memilih mengembangkan jet tempur sendiri bernama Dassault Rafale secara independen.

Singkat cerita, prototipe Eurofighter berhasil dikembangkan pada 6 Agustus 1986. Setelah melakukan penyempurnaan, prototipe terakhir Eurofighter berhasil mengudara pada 27 Maret 1994. Sementara itu, penyematan nama Typhoon diadopsi bulan September 1998, saat kontrak produksi pertama kalinya.

Jet tempur ini memiliki mesin ganda, sayap canard-delta, dan dapat digunakan untuk berbagai fungsi. Dia dapat melesat sampai 2.475 kilometer per jam. Eurofighter Typhoon yang sangat lincah ini terutama dirancang sebagai air superiority fighter atau jenis pesawat yang bisa memasuki dan merebut wilayah udara musuh.

Eurofighter Typhoon pertama kali terjun ke medan perang di tahun 2011, dalam misi yang dilancarkan angkatan udara Inggris ke Libya. Versi terbarunya makin canggih, di mana senjatanya makin ganas. Termasuk misil Storm Shadow yang dikembangkan Inggris, Perancis dan Italia.

Klaim Dwi

Dwi sendiri mengklaim turut dalam tim yang mengembangkan generasi selanjutnya Eurofighter Typhoon. Termasuk juga teknologi dan persenjataannya yang semakin canggih. Tapi belakangan terbongkar kalau semua klaimnya hanya mengada-ada.

"Teknologi 'lethal weapon in the sky' dan klaim paten beberapa teknologi adalah tidak benar dan tidak pernah ada. Informasi mengenai saya bersama tim sedang mengembangkan teknologi pesawat tempur generasi ke-6 adalah tidak benar. Informasi bahwa saya (bersama tim) diminta untuk mengembangkan pesawat tempur Euro Typhoon di Airbus Space and Defence menjadi Euro Typhoon NG adalah tidak benar," sambung Dwi.

Dwi adalah mahasiswa doktoral dari Indonesia yang menuntut ilmu di Belanda yakni di Technische Universiteit (TU) Delft. Selama ini kabar mengenai Dwi lekat dengan cerita manis, mulai mengenai prestasinya dalam membuat Satellite Launch Vehicle/SLV (Wahana Peluncur Satelit) sampai menang di Kompetisi Antar-Space Agency Luar Angkasa.

Muncul juga klaim bahwa dia mengantongi paten di bidang di bidang spacecraft technology. Belakangan diketahui cerita-cerita harum itu ternyata bohong semata. (fyk/rou)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed