Jumat, 29 Sep 2017 13:23 WIB

Facebook Dikritik Donald Trump, Ini Balasan Zuckerberg

Rachmatunnisa - detikInet
Foto: GettyImages/David Ramos Foto: GettyImages/David Ramos
Jakarta - CEO Facebook Mark Zuckerberg membantah tudingan bahwa jejaring sosialnya berperan dalam kampanye Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) dan menjawab tuduhan dirinya melawan atau anti Donald Trump.

Bantahan ini dikemukakan Zuckerberg, menyusul terungkapnya sejumlah akun palsu oleh Facebook, yang diduga didanai pihak tertentu di Rusia selama kampanye Pilpres yang berujung pada kemenangan Trump di 2016.

Dalam postingan di akun Facebook-nya, pria yang akrab disapa Zuck ini menyebutkan, Trump dan kelompok liberal sama-sama kecewa dengan konten dan ide yang berseliweran di Facebook selama masa kampanye.

"Seperti itulah menjalankan sebuah platform yang menampung semua ide," kata Zuck.

Dia menambahkan, kampanye Pilpres AS di 2016 merupakan yang pertama kalinya ketika internet menjadi strategi utama para kandidat berkomunikasi dan berusaha menarik minat para pemilih.

Hal ini dinilainya sangat bagus. Pasalnya, interaksi kandidat dan para pendukungnya di internet dan media sosial mampu memancing para calon pendukung untuk berpartisipasi untuk memilih dalam Pilpres.

Di postingan yang sama, Zuck sekaligus menyesalkan karena setelah masa Pilpres berakhir, beredar luas opini yang menyebutkan banyaknya salah informasi di Facebook yang berkontribusi pada hasil Pilpres. Komentar ini menurutnya meremehkan.

Sebelumnya, Trump menyerang Facebook dengan mengutarakan kritikan pada raksasa jejaring sosial tersebut melalui Twitter. Twitter memang menjadi favorit sang presiden dalam mengeluarkan beragam pendapatnya atau pengumuman tertentu. Trump menuding Facebook sangat anti dengan dirinya.

"Facebook selalu anti Trump. Jejaring itu selalu anti dengan Trump," tulisnya di Twitter.

Mengapa Trump meradang pada Facebook? Rupanya karena situs besutan Mark Zuckerberg itu akan menyerahkan sebanyak 3.000 iklan politik pada parlemen AS. Iklan itu diduga didanai oleh pihak tertentu di Rusia selama kampanye Pilpres.

Rusia selama ini memang dicurigai turut membantu Trump menjadi presiden AS melalui aktivitas di dunia cyber. Dugaan yang selalu dibantah oleh Trump, demikian juga oleh otoritas Rusia.

Facebook menjadi bagian dari investigasi anggota parlemen dan Departemen Kehakiman AS mengenai masalah tersebut dan diminta memberi kesaksian. Namun belum diketahui apakah Zuck yang akan datang dalam kesaksian tersebut, atau eksekutif Facebook lainnya.

Anggota parlemen dan Departemen Kehakiman AS yang sedang menginvestigasi masalah tersebut meminta jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter terbuka dan mau bekerja sama. "Publik berhak mengetahuinya," tutur Adam Schiff, politisi Partai Demokrat.

Trump sendiri memang sering tidak akur dengan Mark Zuckerberg dan kadang berseberangan pendapat. Ada dugaan pula Zuckerberg berniat menantang Trump di Pilpres AS mendatang. (rns/fyk)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed