Rabu, 09 Agu 2017 15:33 WIB

Postingan Instagram Bisa Ungkap Depresi

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilustrasi (Foto: thinkstock) Ilustrasi (Foto: thinkstock)
Jakarta - Dalam perkembangannya, Instagram tak sekadar media sosial untuk berbagi foto. Orang pun mulai mengungkapkan ekspresi melalui foto-foto yang dibagikan. Sebuah studi menyebutkan, postingan Instagram bisa mendeteksi seseorang mengalami depresi atau tidak.

Bahkan, sperti dilansir Quartz, Rabu (9/8/2017), disebutkan kalau mendeteksi depresi seseorang dengan melihat postingan di Instagram lebih ampuh ketimbang harus mengeceknya ke dokter. Bagaimana cara kerjanya?

Penelitian EPJ Data Science menggunakan algoritma tertentu dalam menentukan postingan yang menampakkan tanda depresi. Dalam studinya, EPJ Data Science meneliti 44 ribu foto dari 166 peserta. Sebanyak 71 di antaranya masuk dalam diagnosa depresi.

Alat yang diciptakan oleh peneliti menganalisa foto beserta keterangan fotonya. Untuk postingan gambar, kecenderungan orang depresi selalu menggunakan tone warna yang lebih gelap seperti biru, abu-abu, atau hitam.

Pengguna Instagram yang sering menampilkan gambar dengan komposisi warna hitam putih dikategorikan orang yang tengah depresi. Seperti diketahui, sebelum memposting konten, pengguna dihadapkan pada pilihan filter. Penelitian ini mengatakan, kalau orang yang sering menggunakan filter inkwell dikategorikan depresi, sedangkan yang memilih filter valencia adalah sebaliknya.

Postingan yang masuk kategori depresi, menampilkan lebih sedikit wajah orang di dalamnya karena dianggap menarik diri dari kelompok sosial. Sementara yang kategori senang, biasanya sering memperlihatkan wajah dan cenderung memposting jepretan dengan banyak orang di dalamnya.

Hasil dari alogoritma yang diciptakan ini punya tingkat akurasi diklaim mencapai 70%. Dibandingkan pemeriksaan ke dokter, hanya bisa ditemukan 42% orang-orang yang sedang 'tidak sehat'.

"Anda bisa membangun alat yang bisa membantu lebih cepat. Pada akhirnya, ini akan menciptakan sesuatu yang memonitor suara seseorang bagaimana mereka bergerak dan seperti apa jejaring sosial mereka," sebut penulis studi Chris Danfort, co-director di University of Vermont's Computational Story Lab.

Penemuan ini diharapkan jadi acuan dalam memanfatkan media sosial untuk kepentingan psikologi. Ke depannya, orang yang depresi bisa diselami dari hasil analisis media sosialnya. (rns/rns)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed