Setidaknya itulah yang tergambar pada anak-anak di Pulau Miangas, Sulawesi Utara yang sempat detikINET temui. Raut mereka begitu semringah menyambut adanya internet cepat di desa mereka.
Tania, siswi SMKN 2 Talaud menceritakan selama ini memang sudah ada akses internet di desanya sejak dua tahun lalu. Hanya saja aksesnya terbatas dan kecepatannya memang tidak cepat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati lalod, mereka gunakan secara maksimal akses internet yang tersedia. Tidak saja untuk hiburan, mereka memanfaatkan untuk media belajar.
"Cari informasi dan download pelajaran," tutur Indah.
Neta, siswi SMKN 2 Talaud, Sulawesi Utara. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET |
Hal yang sama dengan Neta, ia pun memanfaatkan akses internet untuk mencari bahan pelajaran. Dia punya tekad tidak ingin kalah dengan anak-anak yang ada di daerah lain.
"Pulau Miangas memang daerah perbatasan Indonesia dan Filipina, tapi pemikiran anak-anak sekolahnya tidak terbatas. Lebih kuatlah dari Manado," kata Neta.
Hadirnya jaringan 4G Telkomsel di Miangas tentu akan makin membantu anak-anak di sana untuk mengakses informasi dan pelajaran lebih cepat lagi. Sehingga kemampuan mereka tidak kalah dengan anak-anak di Jakarta ataupun daerah perkotaan lain.
Minim Fasilitas
Adanya akses internet yang lebih cepat tidak hanya memberi manfaat bagi anak-anak di Miangas. Para guru di pulau terutara Indonesia ini ikut merasa terbantu.
Kepala SMK Negeri 2 Talaud Koneng Nalande kian mempermudah sekolah di Miangas mengakses data dari pusat. Karena Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dilakukan secara online.
Koneng Nalande, Kepala Sekolah SMKN 2 Talaud. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET |
"Kalo ada internet cepat jadi lebih baik. Dulu, saya harus ke kabupaten dan Manado untuk mengirim data. Sekarang langsung dari sekolah saja," kata Koneng.
Setelah tersedianya internet cepat, Koneng berharap pemerintah dapat meningkatkan fasilitas komputer di sekolah-sekolah di Miangas. Selain untuk pembelajaran TIK, adanya fasilitas yang memadai memungkingkan anak-anak di sana dapat mengikuti Ujian Nasioanl Pendidikan Kesetaraan secara online.
"Saat ini ada lima PC, tapi 3-4 rusak karena kadar garam di sini cukup tinggi. Terkadang kami menggunakan laptop milik sendiri, tapi jumlahnya terbatas," tutur Koneng. (afr/fyk)
Neta, siswi SMKN 2 Talaud, Sulawesi Utara. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Koneng Nalande, Kepala Sekolah SMKN 2 Talaud. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET