Hal itu dialami oleh Fatemah Qaderyan (14 tahun) dan Lida Azizi (17 tahun). Kedua remaja perempuan ini harus gigit jari ketika tim dari negara lain turut berlomba di FIRST Global, kontes merakit robot skala internasional. Sebab visa AS mereka tidak lolos.
Padahal Afganistan bukan termasuk negara yang warganya sementara dilarang masuk oleh negara adidaya tersebut. Sementara tim dari Iran, Sudan, bahkan Suriah malah mendapatkan visa, padahal dalam kebijakan baru presiden AS Donald Trump, negara mereka masuk daftar cekal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Reuters |
"Kami masih belum mengetahui apa alasannya kami tidak mendapatkan visa, karena negara lain yang berpartisipasi mendapatkan visa," ujar Qaderyan dilansir Reuters, Rabu (5/6/2017).
Tim Afghanistan ini telah bolak-balik ke Kedutaan AS di Kabul, Ibu Kota Afghanistan untuk mengurus visa mereka. "Tidak ada yang tahu tentang masa depan, kami hanya melakukan yang terbaik agar robot kami ada di posisi setara dengan negara lain," tambahnya.
"Semua negara yang berpartisipasi dalam kompetisi mendapatkan, tapi kami tidak. Jadi, ini seperti sebuah penghinaan bagi rakyat Afghanistan," sebut Azizi.
President dari penyelenggara kompetisi yakni FIRST Global Joe Sestak dalam laman Facebook-nya mengucapkan perasaan sedihnya saat mengetahui tim dari Afghanistan tersebut tidak bisa ikut perlombaan. Mengobati rasa kecewa itu, tim Afghanistan ini diperbolehkan terhubung dengan kompetisi melalui live streaming di Skype.
"Begitu cara kami untuk mendukung tim ini, para perempuan pemberani dari Afghanistan," kata Sestak.
Sestak mengungkapkan sebenarnya bukan hanya Afghanistan saja yang ditolak visanya untuk mengikuti kompetisi FIRST Global. Tim dari Gambia juga merasakan hal yang sama. (fyk/fyk)
Foto: Reuters