Senin, 03 Jul 2017 19:29 WIB

Pro Kontra: Tarif Taksi Online vs Konvensional

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: Tim Infografis, Andhika Akbarayansyah Foto: Tim Infografis, Andhika Akbarayansyah
Jakarta - Tarif taksi online kini sudah tidak semurah dulu. Meski demikian, banyak pembaca detikINET tetap pilih taksi online ketimbang konvensional.

Seperti yang diungkap Aswin Iffatyanto. Dia akan tetap memilih taksi online. Pasalnya, sangat mudah memantau estimasi harga serta lokasi pengemudi.

"Ini membuatnya saya tenang," tulisnya dalam kolom komentar.

Hal senada diungkapkan akun Kingm4nik. Dia mengatakan tarif konvensional kerap rawan penyimpanan rute dan jarak tempuh. Sebaliknya tarif taksi online sudah ditetapkan dan total bayar telah diketahui besarannya di muka.

Sementara itu akun Ufuksenja mengatakan taksi online biayanya tetap walaupun nyasar atau muter-muter. Kalau taksi konvensional, saat sdriver salah jalan yang menanggung biaya penumpang.

"Belum lagi krn ketidaktahuan penumpang, sengaja diputer2 spy argo loncat2," keluh akun Ufuksenja.

Berbeda yang disampaikan akun Wakeup. Ia memilih tetap menggunakan konvensional ketimbang online.

"Sementara pilih taksi konvensional aja karena taksi online mobilnya kecil dan kadang mobil tua. Juga drivernya ga nguasai/paham wilayah jakarta Dikit dikit nanya jadi ga nyaman," katanya.

Senada dengan di atas, akun Toing10 juga memilih taksi konvensional. "Taxi konvensional lah, perusahaannya reliable bisa dipercaya, bisa booking, lebih aman klo barang ketinggalan. Saya hanya pake taksi online hanya jika jauh lebih murah," katanya.

Pilihan yang sama juga diungkap Santetonea. Menurutnya taksi konvensional bagus dan nyaman. "Beda 5-6ribu tapi jelas, uangnya jelas, aturan jelas, regulasi jelas," katanya.

Ada pula pembaca yang memilih dua layanan tersebut. Salah satunya akun Harakanankanan. "Tergantung, kalau perjalanan jauh dan lalin lancar lebih enak taksi konvensional. Tapi kalau lalin macet, lebih enak online. Kalau jam sibuk kadang jg lebih enak konvensional, jatohnya lebih murah," tulisanya.

Sejumlah pembaca menyampaikan komentar yang berbeda, Hendra Purnama contohnya, dia menilai pertanyaan yang seharusnya bukan pilih yang mana, melainkan kenapa pemerintah berpihak pada yang tidak efisien.

"Yang murah kok dipaksa mahal..." kata Hendra Purnama.

Sementara akun Nasikhudi menuliskan adalah bukan hak pemerintah untuk menentukan tarif layanan transportasi swasta. Tapi suatu kewajiban bagi pemerintah untuk menyaingi mereka.

"Toh kita sebagai konsumen masih punya otak ko. biarkan semuanya berkompetisi," tulis Nasikhudin.

Sementara akun Kibun08 berpendapat permasalahan dari dulu bukan pada tarif tapi pada kualitas pelayanan taxi konvensional. Ketika masyarakat membutuhkan kualitas pelayanan yg baik dan taksi online memberikan malah dengan tarif yang lebih terjangkau.

"Jangan salahkan konsumen yg sebagian besar beralih ke taxi online. Jadi yg perlu diperbaiki bukan soal arif tp pelayanan selama pelayanan taxi konvensional masih amburadul konsumen akan tetap milih taxi online," papar akun Kibuns08.

"Oiya dengan tarif sebelumnya aja operator taksol sudah dpt untung dari aplikasi sekarang malah dinaikkan tarifnya artinya penghasilan operator taksol jadi melambung, sedang operator takskon ga dapat apa2 seperti biasa aja alias gigit jari tuh....(halo organda)," ujar akun Hendra Purnama. (rns/rns)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed