Selasa, 27 Jun 2017 12:55 WIB

Tanpa Genius Ini, Tak Ada yang Namanya Google

Fino Yurio Kristo - detikInet
Larry Page. Foto: Getty Images Larry Page. Foto: Getty Images
Jakarta - Google yang kini begitu meraksasa, perusahaan dengan aset miliaran dolar, dimulai dengan awal sederhana. Banyak kisah yang sebenarnya jarang diceritakan soal berdirinya perusahaan yang digawangi Larry Page dan Sergey Brin itu.

Larry Page khususnya, dinilai sebagai otak terciptanya Google. Berikut beberapa kisah menarik soal sepak terjang pria imigran ini, seperti disarikan detikINET dari Slate. Material ini berasal dari berbagai sumber, seperti buku In the Plex: How Google Thinks, Works, and Shapes Our Live karya Steven Levy.

Baca Juga: Markas Google yang Sangat Instagrammable

Google Digagas Larry Page

Google terlahir di 4 September 1998, dua tahun setelah idenya muncul di kepala Larry Page. Dia langsung mengangkat diri sendiri menjadi CEO Google, sedangkan teman karibnya Sergey Brin disebut sebagai rekan pendiri Google atau istilahnya dalam bahasa Inggris co founder.

Status co-founder itu biasanya terlupakan oleh sejarah. Sebut saja Facebook, orang pasti jauh lebih mengenal Mark Zuckerberg ketimbang beberapa pendiri lainnya. Tapi lain ceritanya dengan Sergey Brin.

Tanpa Genius Ini, Tak Ada yang Namanya GoogleSergey Brin dan Larry Page. Foto: Pool (Business Insider)


Page dan Brin bertemu kala sama-sama kuliah di Stanford University. Brin karakternya terbuka dan energik. Sehingga bagi Google, Brin menjadi pelengkap Page yang lebih introvert. Brin-lah yang menjalin relasi antara Google dengan perusahaan lain.

Seperti disebut di atas, Google memang ide awalnya berasal dari Page yang dibantu kemudian oleh Brin. Mereka berhasil memperoleh pendanaan senilai USD 1 juta dari dari teman dan keluarga yang percaya bahwa Google akan sukses. Google pun didirikan, kantor awalnya di sebuah garasi.

Februari 1999, startup itu tumbuh pesat. Page pun memindahkan kantornya dari garasi di sebuah kantor baru di Palo Alto, California. Tujuh bulan kemudian, mereka pindah kantor lagi ke Mountain View seiring pertumbuhan bisnis Google.

Pada paruh pertama 1999, popularitas Google melesat. Situasi ini membuat Google membutuhkan pendanaan baru untuk berinvestasi di server maupun sumber daya manusia. Meskipun pada saat itu, Google belum menghasilkan uang.

Page dan Brin pun mulai mencari investor baru. Namun Page punya persyaratan, dia dan Brin akan mempertahankan sebagian besar voting stock serta tetap mengontrol penuh Google. Investor setuju, tapi mereka juga punya persyaratan, Page harus turun dari posisi CEO. Dia dianggap belum berpengalaman.

Dengan berat hati, Page setuju dan investasi besar pun berdatangan ke Google. Sejatinya, Page punya sifat suka mengendalikan. Sejak zaman kuliah, teman-temannya mengatakan dia paranoid dan suka mengontrol, dia harus memastikan semuanya dikerjakan dengan tepat dan benar.

Eric SchmidtEric Schmidt. Foto: Gettyimages - Win McNamee


Page pun merasa berat harus melepas posisi CEO karena ia merasa mampu memimpin Google dengan bantuan Brin. Tapi akhirnya Page sadar Google butuh CEO yang sudah berpengalaman dan berstatus kelas dunia, agar terus berkembang. Mereka pun mulai mencari kandidat. Akhirnya yang terpilih adalah Eric Schmidt, mantan CEO Novell.

Schmidt menjadi chairman Google di Maret 2001 dan menjabat CEO bulan Agustus. Rupanya keputusan itu sangat tepat. Schmidt berhasil memimpin Google menjadi perusaahana yang jauh lebih besar dan akhirnya melantai di bursa saham pada Agustus 2004. Jadilah Page dan Brin milarder.

Cita-cita Besar Page dan Terciptanya Android

Sejak awal berdirinya, Page sudah berambisi Google tidak hanya akan menjadi perusahaan mesin cari. Sejak kecilnya, Page bermimpi menciptakan hal-hal yang bisa mengubah dunia. Saat masih di University of Michigan, dia mengutarakan ide untuk menggantikan bus sekolah dengan semacam MRT personal sehingga lebih efisien.

Dia juga pernah memaparkan ide pembuatan semacam tali super panjang yang menghubungkan bumi dengan orbit. Dengan begitu melimpahnya uang di Google, Page pun semakin giat menggagas berbagai ide dan membuatnya jadi kenyataan.

Tahun 2005, salah satu visi Page adalah membuat komputer handheld yang bisa dimiliki banyak orang dan bisa mengakses semua layanan Google. Dia pun mencari start up yang kira kira bisa memenuhi ambisi tersebut.

Tanpa Genius Ini, Tak Ada yang Namanya GoogleFoto: Reuters/Beck Diefenbach


Maka, Google pun melirik Android dan akhirnya mengakuisisinya. Pembelian Android yang kira kira senilai USD 50 juta adalah murni ide Page, ia bahkan tidak memberitahukannya pada Schmidt sampai akuisisi selesai. Oleh Page, Android dibiarkan berdiri sendiri dan tetap dipimpin penciptanya, Andy Rubin.

Rubin bisa mengembangkan Android sesuka hatinya, bahkan tim Android punya gedung sendiri yang tidak bisa dimasuki karyawan biasa Google. Schmidt sendiri walapun dilangkahi Page awalnya kurang peduli, apalagi nilai USD 50 juta sangat kecil bagi Google sehingga ia tidak cemas jikalaupun proyek Android gagal.

Page pun banyak menghabiskan waktunya berdiskusi bersama Brin. Sampai akhirnya, ponsel Android pertama dirilis dengan nama G1 pada tahun 2008. Waktu itu, bentuknya mirip dengan iPhone, tapi tetap saja sistem operasi Android ini konsepnya bagus dan bisa diinstal gratis oleh vendor manapun, sehingga perkembangannya melesat.

Keberhasilan Android membuat Page percaya diri bahwa ia punya bakat memimpin dan mendelegasikan tugas pada orang lain, sesuatu yang susah dilakukannya di masa silam. Pada saat yang sama, Google telah menjadi perusahaan raksasa, waktu itu tahun 2010. Kapitalisasi pasar Google kala itu mencapai USD 180 miliar dengan 24 ribu karyawan.

Larry Page Jadi CEO Lagi

Tahun 2011, Schmidt sudah merasa cukup memimpin Google. Larry Page dipandang pantas mengomandoi perusahaannya lagi dan ia pun menjadi CEO kembali. Sedangkan Schmidt menjadi chairman Google.

Di bawah kepemimpinan Page, Google melakukan beberapa hal drastis. Ancaman Facebook ditangkisnya dengan Google+, meski tidak terlampau sukses.

Tahun 2012, Google membeli Motorola senilai USD 12,5 miliar, dengan tujuan utama membeli paten demi memperkuat Android yang sering diterpa gugatan hukum. Tapi Motorola akhirnya dilego ke Lenovo.

Tanpa Genius Ini, Tak Ada yang Namanya GooglePeluncuran Google Pixel. Foto: Reuters


Google melaju dengan keputusan Page membuat handset Android sendiri. Maka lahirlah ponsel Google Pixel yang diterima dengan baik di pasaran.

Google juga memperkenalkan Chromebook, laptop berasis web dan komputasi awan. Juga proyek percobaan kacamata pintar Google Glass. Pada akhir 2012, Google mulai membangun koneksi internet super cepat di Kansas City.

Berbagai langkah tersebut meski kadanv gagal, tidak mengejutkan bagi mereka yang mengenal Page, sosok ambisius dengan mimpi selangit. Meski ia juga punya kelemahan sebagai CEO, misalnya dinilai kurang bisa public speaking sehingga kurang mempesona pendengarnya.

Apapun itu, Google makin meraksasa di bawah kepemimpinan Page. Dia masih punya visi dan impian besar. Bukan tidak mungkin nantinya, Google akan menguasai segalanya.

"Semua yang Anda imajinasikan mungkin saja bisa dikerjakan. Anda cukup hanya membayangkannya dan mengerjakannya," kata Page di tahun 2012.

Page sendiri kini memimpin Google lewat Alphabet, sebagai CEO, yang menjadi induk usaha dari perusahaan raksasa internet dunia tersebut.

Baca Juga: Menjelajah Markas Besar Google

(rou/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed