Pengamat medsos Nukman Luthfie mengatakan, semestinya masyarakat semakin cerdas dalam menghadapi derasnya hoax. Nyatanya, hoax di dunia maya seperti tidak terbendung mempengaruhi, bahkan hal ini berdampak di dunia nyata atau offline.
Nukman menilai hal itu dipengaruhi oleh tingkat literasi masyarakat yang rendah terhadap informasi, media hingga medsos. Literasi sendiri adalah kemampuan memahami dan mendekonstruksi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya, orang akan mudah mempercayai hoax dan malah ikut menyebarkannya. Sebuah riset terbaru yang dilakukan di Amerika Serikat (AS) memperlihatkan, sebanyak 80% tidak bisa membedakan mana berita benar, advertorial, dan hoax. Indonesia, menurut Nukman, dengan tingkat literasi internet di bawah AS, kurang lebih seperti itu.
"Di medsos itu ada orang yang cuma lihat judulnya doang, seperti di Twitter, atau headline-nya di Facebook. Kalau ada judul yang menurut mereka cocok, benar atau tidak itu soal belakangan. Mereka share dulu walaupun belum dibaca isinya," kata Nukman.
Kalaupun mereka membaca isi artikelnya, seringkali dengan cepat menyimpulkan. Hal ini lantaran cara membaca di media online dengan di media cetak berbeda. Kecenderungan orang di media online akan membaca dengan cepat dan sekilas untuk segera mendapat kesimpulan.
"Dengan tiga hal itu, ditambah dengan situasi panas seperti Pilkada, perang opini, penyebaran hoax meningkat. Muncul juga situs abal-abal yang memproduksi berita-berita yang gak tahu kebenarannya," papar Nukman.
Think Before Share!
Nukman mengingatkan agar netizen kritis terhadap informasi yang berseliweran di media sosial maupun pesan instan. Jadilah orang 'waras' yang kritis di tengah banjir informasi yang makin deras mengalir.
![]() |
Hantam Hoax merupakan program detikcom dalam memperingati Hari Pers yang didukung oleh sejumlah tokoh dalam bentuk surat terbuka. Selengkapnya klik di sini: detik.com/hantamhoax
(rns/fyk)
