Adalah sekelompok peneliti dari Harvard dan University of Vermont yang tengah mengembangkan teknologi AI tersebut, dengan menggunakan algoritma tertentu yang akan mengukur bermacam komponen dalam sebuah foto untuk mengukur tingkat depresi.
Akurasi AI ini diklaim sudah mencapai 70% ketika mendeteksi orang yang sudah didiagnostik depresi. Beberapa komponen yang digunakan dalam pengukuran ini adalah analisis warna, komponen metadata, dan algoritma untuk mendeteksi wajah, demikian dikutip detikINET dari Ubergizmo, Kamis (18/8/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara pengguna dengan suasana hati lebih gembira cenderung menggunakan warna-warna cerah, seperti filter Valencia dan X-Pro II. Meski punya tingkat akurasi tinggi, tim peneliti itu tak menyarankan metode ini sebagai pendeteksi tunggal, alias tetap harus dilakukan diagnostik menggunakan metode lain. (asj/ash)