Imajinasi liar di sini tentunya dalam arti positif, dimana tujuan akhirnya adalah untuk membantu perusahaan mencapai gol yang diimpikan.
Menurut Antonius Agus Susanto, Partner Business & Development Lead Microsoft Indonesia, ketika awal-awal hadir, cloud identik sebagai layanan dengan gaya Inrastructure as a Service (IaaS), tetapi kini sudah eranya Platform as a Service (PaaS). Nah, di atas platform inilah sejatinya bisa dikembangkan berbagai solusi sebagai juru selamat perusahaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hanya saja memang solusi-solusi tersebut tergantung dari imajinasi perusahaan ataupun partner penyedia layanan cloud. Mampu atau tidak berpikir out of the box dan keluar dengan sebuah ide cetar?
Microsoft sendiri tengah menggencarkan Cloud Solution Provider (CSP) di Indonesia. Program yang baru berjalan 2 bulan itu memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan beragam solusi bisnis, mulai dari Office 365, Azure, SharePoint, Skype, CRM online dan lainnya. Dimana biayanya berdasarkan pay per use alias bayar kalau terpakai.
Microsoft tak bisa menjual layanan ini langsung ke pelanggan korporat/UKM/startup. Melainkan melalui para partner mereka β baik direct ataupun indirect (melalui reseller).
Meski 'barang dagangan' mereka sama β yakni CSP β tetapi para partner ini dibebaskan untuk berkreasi 'seliar' mungkin untuk membuat solusi jitu kepada pelanggan.
![]() |
"Memang yang pengen kita lakukan adalah membuat solusi untuk pangsa pasar di Indonesia. karena dengan CSP, bisnis modelnya jadi bulanan (pay per use)," kata Toni β sapaan akrab Antonius saat berbincang dengan detikINET di sela Microsoft Worldwide Partner Conference 2016 di Toronto, Kanada.
Sebelumnya, cloud biasanya memiliki dua mekanisme pembayaran: berbasis berlangganan dan pemakaian. Azure misalnya, biayanya berdasarkan pemakaian, sedangkan Office 365 berlangganan, dan ada pula yang menggunakan token yang bakal terpotong saat pelanggan menggunakan layanan yang dibutuhkannya.
Dan walau sekarang CSP lebih memudahkan lantaran bayarnya pay per use, namun Microsoft mengharapkan para partner CSP tak cuma mengharapkan revenue dari biaya penggunaan, tetapi dari service.
"Misalnya, Anda ingin menggunakan server termasuk web yang gampang di-develop dan bisa dimodifikasi sendiri, Anda tinggal bilang saja desainnya mau kaya gimana. Kita yang kelola website itu. Jadi yang dijual ini: service website, desain sampai uptime dan garansi. Consumer tinggal bilang misalnya, saya mau throughput 10 ribu per jam, dan itu bisa. Tinggal berapa biayanya," papar Toni.
Jadi tidak seperti beberapa tahun silam dimana saat ingin membuat website pertanyaannya adalah, berapa harga server, berapa biaya desain web, maintenance dan lainnya.
"Gak lagi begitu. Karena yang diarahkan benar-benar dari aspek bisnis sehingga customer benar-benar bisa fokus ke strategi dan operasional bisnisnya. CSP memungkinkan partner seperti itu," lanjutnya.
Toni pun mengibaratkan CSP Microsoft sebagai gudang layanan cloud. Dimana para partner dibebaskan masuk ke gudang cloud tersebut untuk mewujudkan ide-ide ciamik mereka guna membantu pelanggan.
"Jadi ini sangat menarik bagi system integrator, karena tugasnya tak lagi cuma menjual service untuk kemudian diintegrasikan. Sementara dengan CSP, system integrator itu tugasnya gak cuma menjahit tapi juga memberi solusi dan meramu layanan yang dimiliki untuk kemudian ditawarkan," pungkasnya. (ash/fyk)
