Menurutnya, perusahaan raksasa yang terkenal saat ini seperti Google juga dibangun dari nol. Banyak unicorn, istilah untuk startup dengan nilai lebih dari USD 1 miliar, dikembangkan dengan proses yang teramat sulit. "Google dulu berdarah darah," sebut Zaky.
Zaky menyatakan BukaLapak merasa punya tanggung jawab untuk menyebarkan nilai nilai entrepreneurship. Mereka sudah berinisiatif melakukan program sejuta UKM untuk berjualan di situsnya sampai kampanye film pendek di YouTube yang sukses menarik perhatian jutaan pemirsa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Zaky, sangat penting menyebarkan virus entrepreneurship di masyarakat Indonesia. Bukan hanya untuk pedagang kecil atau UKM, tapi ke semua lapisan termasuk kepala daerah. Kegagalan itu adalah hal biasa, yang penting semangat pantang menyerah.
"Saya makin ke sini makin percaya bahwa yang paling penting itu proses menjalaninya. Its okay, usaha gagal tidak apa-apa. BukaLapak ingin masyarakat Indonesia bertransformasi untuk berani mengambil risiko dengan punya usaha," katanya lagi.
Zaky melanjutkan, untuk membangun usaha sendiri, masyarakat Indonesia harus punya mental seperti kecoa. Mental untuk bisa terus bertahan dalam kondisi sesulit apapun.
"Kecoa makan dari lumpur, kotoran, ada rezeki sedikit diambil, bersyukur. Kadang diinjek orang tapi tetap hidup," sebut Zaky.
Spirit semacam itu perlu dikembangkan saat membangun usaha. BukaLapak sendiri yang kini semakin sukses pun masih terus berjuang. Secara modal menurut Zaky, mungkin BukaLapak tak sebesar pemain lain. Tapi ia mengklaim, BukaLapak punya kreativitas.
Dengan makin banyaknya entreprenur, Zaky pun berharap suatu saat Indonesia bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
"Pakai produk luar negeri tidak saya bilang salah. Tapi semoga generasi anak cucu bisa memakai produk sendiri, jadi bangsa yang kreatif, bukan hanya untuk Indonesia tapi juga masyarakat dunia. Itu bisa lahir dengan semangat entrepreneurship," pungkasnya.
(fyk/ash)