Rabu, 08 Jun 2016 09:54 WIB

Masalah Ini Bikin Pusing Pelaku Bisnis Internet Indonesia

Fino Yurio Kristo - detikInet
Foto: GettyImages Foto: GettyImages
Jakarta - Industri internet Indonesia khususnya di bidang e-commerce makin bergeliat. Namun berbagai masalah menghadang, misalnya saja minimnya orang yang ahli di bidang ini.

Sebut saja kasus retail online Bilna yang harus menghabiskan waktu dua tahun mencari Chief Technlology Officer. Beruntung mereka berhasil merekrut Ridy Lie yang kembali ke Indonesia setelah bekerja 8 tahun di retail onine terbesar di dunia, Amazon.

Menurut Eka Himawan, Chief Financial Officer startup tersebut, perusahaan mereka sangat kesulitan mencari ahli yang tepat untuk memimpin ke level selanjutnya. "Dialah yang bisa memandu para engineer dan mengatakan, inilah yang kami lakukan di Amazon dan beginilah seharusnya kita melakukannya," kata Himawan yang detikINET kutip dari Reuters.

Ya, meski investasi mulai deras mengalir dari raksasa internet semacam Alibaba dan Softbank, merekrut eksekutif atau karyawan berkualitas di bidang teknologi dinilai masih tantangan berat di Indonesia. Padahal mereka diperlukan untuk membantu negara ini menjadi pusat ekonomi internet yang diperhitungkan.

Laporan terbaru dari Google dan Temasek memperkirakan kalau Asia Tenggara memerlukan investasi USD 40 sampai 50 miliar dalam dekade ke depan untuk menjadi kawasan ekonomi internet bernilai USD 200 miliar, di mana Indonesia akan mendapat porsi besar.

Kurangnya tenaga ahli di bidang internet kemungkinan karena sistem edukasi Indonesia yang belum mendukung, kurangnya pengalaman dan rendahnya gaji dibanding negara lain. Menurut World Economic Forum, karyawan dengan keahlian tinggi hanya berkisar 10% dari seluruh penduduk negeri ini, rasio yang sangat rendah bahkan di Asia Tenggara.

"Hal ini bisa memperlambat pertumbuhan. Jika saya membandingkan startup di Indonesia dengan tempat lain, mereka cenderung kurang dalam hal teknologi dan juga kurang efisien," sebut Vinnie Lauria, pendiri Golden Gate Ventures yang berbasis di Singapura.

Sebagai solusi, beberapa investor pun memilih menyewa tenaga kerja ahli di luar negeri untuk membantu startup Indonesia agar bisa berkembang. Jalan lainnya adalah mendatangkan tenaga ahli selama beberapa bulan di Indonesia untuk memberi saran pada startup. Mungkin selama 3 bulan.

Selain kurangnya tenaga ahli, tantangan lain bagi startup dan investor teknologi di Indonesia sebenarnya cukup banyak, misalnya kesulitan dalam hal logistik dan berubah ubahnya kebijakan dari otoritas. Indonesia menurut World Bank, berada di urutan 109 dari 189 negara soal kemudahan bisnis.

Namun tetap saja yang dirasakan paling berat adalah mencari tenaga kerja berbakat. "Mendapatkan orang yang bagus itu susah. Sistem edukasinya kurang cocok, apa yang diajarkan di universitas tak banyak berguna saat bekerja," kata Lie.

Pemerintah sendiri kabarnya menyadarinya. Dilaporkan, ada rencana untuk memasukkan pelajaran seperti coding di kurikulum sekolah. Masalah ini memang tak bisa disepelekan.

"Ada banyak dana kapital yang tersedia dan Indonesia sedang meledak dalam semua level yang mungkin. Tapi mengapa pertumbuhannya lebih lambat dari yang mereka bisa? Jawabannya karena kurangnya bakat. Itu adalah faktor nomor satu," sebut Adrian Vanzyl, CEO Ardent Capital. (fyk/ash)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed