Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Ini Alasan Rumah Sakit Harus Cepat Adopsi TI

Ini Alasan Rumah Sakit Harus Cepat Adopsi TI


Anggoro Suryo Jati - detikInet

Foto: Anggoro Suryo Jati/detikINET
Jakarta - Berobat ke rumah sakit, setiap orang pasti punya pengalamannya sendiri-sendiri. Namun yang sering terjadi adalah menunggu proses administrasi yang biasanya menghabiskan waktu cukup lama.

Penyebab utamanya adalah sistem administrasi yang masih konvensional, yaitu pencatatan manual menggunakan kertas. Baik dalam mencatat identitas pasien, resep dokter, sampai dengan tagihan biaya rumah sakit.

Sistem yang bertele-tele ini membuat proses pengobatan berjalan sangat lambat, atau kasarnya bisa dibilang pasiennya keburu meninggal. Masalah ini coba diatasi oleh SAP, sebuah perusahaan pembuat solusi aplikasi, dalam hal ini aplikasi penyedia jasa kesehatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Solusi yang ditawarkan oleh SAP ini terbagi menjadi tiga bagian, yang meski bisa berjalan sendiri-sendiri, hasilnya akan lebih optimal bila diimplementasikan secara menyeluruh.

Solusi pertama adalah masuk dalam kelompok Enterprise Resource Planning, yang mencakup administrasi finansial, suplai dan penyimpanan barang. Lalu kelompok yang diberi nama Patient Management.

Kelompok kedua inilah yang mempunyai dampak langsung ke pasien, karena terkait dengan registrasi pasien saat datang ke rumah sakit. Dalam tahap ini semua data pasien akan dicatat, dari keluhan, riwayat medis hingga alergi terhadap obat tertentu, dan diklaim hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit.

Data ini akan terus tersimpan di server, sehingga jika si pasien nantinya kembali lagi ke rumah sakit, tak perlu repot lagi membuka rak penyimpan dokumen untuk mencari riwayat medis si pasien tersebut.

"Mungkin pernah ada yang mengalami ketika datang ke rumah sakit, kita akan ditanya macam-macam soal riwayat medis dan sejenisnya, dan itu terjadi secara berulang meski sudah pernah. Dengan solusi ini, hal itu tak akan terjadi lagi," ujar Andy David, Healthcare Director SAP APJ di Jakarta, Selasa (7/6/2016).

Hebatnya lagi, jika pasien tersebut berobat ke rumah sakit lain yang menggunakan solusi yang sama, data tersebut bisa diunduh sehingga tak perlu repot lagi mengisi data yang sejenis. "Tentunya jika pihak rumah sakit memberikan akses data tersebut ke rumah sakit lain," tambah David.

Solusi ini disebut oleh David bisa mengirit waktu setidaknya 1,5 jam tiap harinya, karena lebih sedikit kertas yang harus diproses oleh pihak rumah sakit. Belum lagi adanya kesalahan dalam membaca dokumen di kertas itu. "Di Amerika Serikat ada tiap harinya ada 1.000 orang yang meninggal karena kesalahan ini," tandasnya.

Kelompok solusi yang terakhir adalah Electronic Medical Record, yang merupakan solusi bagi para dokter dan perawat untuk mendokumentasikan data pasien. Menurut David, biasanya para dokter enggan untuk mendokumentasikan rekam jejak medis pasiennya, karena waktu mereka sangat berharga.

"Jadi ketimbang mencatat rekam medis pasiennya, ia lebih baik menyelamatkan nyawa pasien lain. Sehingga proses pencatatan itu biasanya dilakukan oleh perawat. Namun dengan solusi kami ini, proses pencatatan bisa dilakukan dengan mudah karena menggunakan perangkat tablet," ujar David.

Tak sekadar mencatat data pasien, solusi SAP ini juga mempermudah menghitung tagihan biaya rumah sakit yang harus dibayar oleh si pasien. Proses yang jika dilakukan secara konvensional bisa menghabiskan waktu berjam-jam.

"Di pagi hari, mungkin dokter bilang kamu sudah bisa pulang ke rumah. Namun pada praktiknya, kamu baru bisa keluar dari rumah sakit pada sore harinya, karena proses penghitungan tagihan yang memakan waktu lama," tambah pria yang suka bercanda itu.

Solusi ini menurut David sudah digunakan di 7.100 penyedia layanan kesehatan yang tersebar di 88 negara. Sementara di Indonesia sudah ada beberapa rumah sakit di Jakarta dan Surabaya yang mengimplementasikannya.

Penggunaan solusi ini di Indonesia disebut oleh David sudah cukup mendesak, karena didukung oleh beberapa faktor yang membuat jumlah pasien melonjak. Seperti prediksi meningkatnya jumlah orang berusia senja, juga perubahan gaya hidup yang dinilai buruk bagi kesehatan.

Lalu ada juga implementasi asuransi BPJS oleh pemerintah Indonesia, yang membuat banyak orang bisa mengakses fasilitas kesehatan dengan biaya murah, namun tak diimbangi dengan jumlah rumah sakit yang membuat pelayanannya menjadi semakin memakan waktu, yang diklaim bisa diatasi dengan mengimplementasikan solusi milik SAP tersebut.

(asj/rou)





Hide Ads