Rabu, 25 Mei 2016 19:16 WIB

Cerita Bocah Linux Soal Serunya Coding

Adi Fida Rahman - detikInet
Foto: Linux dan Hanif (detikINET/Adi Fida Rahman) Foto: Linux dan Hanif (detikINET/Adi Fida Rahman)
Jakarta - Jadi developer aplikasi tak pandang usia. Jadi jangan heran jika di acara seperti Hackathon Indonesia Android Kejar, ada peserta yang masih belia.

Karindra Rafi Linux (13 tahun) dan Muhammad Hanif Zuhdi (14 tahun) misalnya. Keduanya masih berstatus siswa kelas 7 dan 8 SMP Negeri 1 Semarang.

Berbicang dengan detikINET, keduanya mengaku masih baru di dunia coding. Meski belum sebulan mereka menekuninya, Linux dan Hanif sudah merasakan serunya dunia coding.

Hanif sebelumnya mengikuti ekstrakurikuler robotik di sekolahnya. Namun karena merasa kurang efesien, dia coba beralih ke ekstrakurikuler komputer. Sementara Linux, sedari awal sudah tertarik mengikuti ekstrakurikuler komputer.



Keseriusan keduanya membuat mentor ekstakurikuler komputer memperkenalkan coding aplikasi lewat Google Indonesia Android Kejar. Tak disangka Hanif dan Linux ternyata menyukainya.

"Awalnya sulit, tapi justru itu membuat saya makin suka," kata Hanif.

"Apalagi kalo sudah berhasil mecahin kodenya, seru banget rasanya," timpal Linux.

Setelah menimba ilmu di Indonesia Android Kejar, kedua bocah ini mendalami ilmu coding lewat online. Mereka kerap mengulik sejumlah tutorial yang tersedia di internet.

"Tutorial coding banyak banget. Beda dengan robotik, tutorialnya sedikit dan tidak terlalu antusias kayak Android," jelas Hanif.



Hingga saat ini, sejumlah aplikasi sederhana telah mereka telurkan, antara lain aplikasi resep masakan dan lain-lain. Ke depannya, mereka ingin membuat aplikasi yang bisa dimasukkan ke Google Play Store.

Bicara cita-cita, Hanif ingin menjadi seperti Dedi Gunawan, ahli networking yang diidolakannya. Lebih jauh lagi, dia berkeinginan mendirikan sebuah startup dan mengajar.

"Kalo kita punya ilmu tapi tidak dibagikan kan percuma. Jangan hanya untuk diri sendiri," tegasnya.

Sementara Linux, ingin menjadi programer yang membuat aplikasi. Salah satunya untuk membantu para UKM.

"Banyak UKM di Indonesia mengalami kegagalan karena pemasarannya belum terlalu ahli. Nah, aplikasi yang akan saya buat untuk membantu mereka agar makin sukses dalam memasarkan produknya," tutup bocah berkacamata ini.

(afr/rns)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed