Hal itu dikemukakan oleh Yansen Kamto, CEO Kibar Kreasi Indonesia, yang ikut dipercaya oleh Presiden Joko Widodo dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara untuk bantu menyukseskan program seribu startup.
Kali ini, Yansen bersama Rudiantara, ikut membuka ajang pencarian startup atau usaha rintisan digital yang tengah digelar Telkomsel melalui program The NextDev 2016. Turut hadir pula sejumlah pendiri startup seperti Sanny Gaddafi dari 8villages dan Dhini Hidayati dari Gandeng Tangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
"Apa yang dilakukan Telkomsel sebenernya di luar program seribu startup, tapi misinya sama, mengembangkan ekosistem. Jadi tetap kita dukung, kita harus bergandengan tangan," kata Yansen bersama Dhini dan Sanny saat ditemui di sela acara The NextDev 2016 Telkomsel di Kota Kasablanka, Senin (9/5/2016).
Hal serupa juga dikatakan oleh Rudiantara. Program pencarian startup yang dilakukan Telkomsel untuk mencari solusi bagi kota pintar (smart city) dan desa cerdas (smart villages) diakui memang mirip dengan program Kementerian Kominfo.
"Tidak apa-apa yang penting ramai dulu. Kominfo juga membuat hal sejenis tapi betul-betul ditujukan untuk aplikasi di desa. Mesti pendekatan ke ekosistem," kata Chief RA, panggilan akrabnya.
![]() |
Selain Beri Solusi, Harus Punya Hati
Sementara Yansen berpendapat, sudah banyak orang yang menilai potensi pasar Indonesia begitu besar. Banyak peluang bisnis yang masih bisa digarap, khususnya bagi para startup.
Namun sayangnya, potensi pasar yang begitu besar itu belum terlalu dimaksimalkan oleh negeri sendiri.
"Potensi pasar Indonesia ini dilihat dari jumlah penduduk yang berkisar 250 juta jiwa. Tapi sayang, kita udah terlalu sering bicara soal potensi pasar Indonesia. Stop bicara soal potensi. Alangkah baiknya, memikirkan apa yang harus dilakukan buat kita sendiri," ujarnya.
Disampaikan juga olehnya, seiring dengan perkembangan teknologi, sudah saatnya negeri ini tidak hanya dijadikan sebagai pasar semata, tetapi mampu untuk menjadi produsen.
Menurut Yansen, banyak persoalan yang sejatinya tidak hanya memiliki potensi bisnis semata, melainkan bisa berguna bagi masyarakat.
"Kenapa kita tidak menjadi produsen dengan memanfaatkan teknologi. Kita harus bisa menciptakan startup yang berguna. Menjadi startup yang berguna, harus dimulai dari masalah yang ada sehingga akan terasa efeknya," jelasnya.
![]() |
"Jangan malah niat bikin startup cuma buat cari pendanaan saja atau malah buat keren-kerenan doang. Kita di sini tidak cari startup karbitan, kita cari startup yang selain punya otot dan otak, tapi juga pakai hati," imbuhnya.
Melihat potensi pasar yang begitu besar, pemerintah tengah mencanangkan program seribu startup hingga 2020. Setiap tahunnya diharapkan bisa tumbuh 200 startup baru melalui pencarian awal di 10 kota.
Yansen mengatakan, rencana pemerintah itu bukan suatu hal yang mustahil.Β Pasalnya, dirinya beserta pegiat startup dan pemerintah, telah memiliki sebuah formula yang diklaimnya tepat untuk menumbuhkembangkan startup baru di bidang digital.
"Caranya adalah dengan melakukan serangkaian acara seperti talk, workshop, hackathon, bootcamp dan inkubasi di seluruh Indonesia. Kami akan menyebarkan virus teknopreneur digital ke seluruh penjuru negeri," pungkasnya.
Pencarian Startup di 20 Kota
Tahun ini program pencarian startup yang dilaksanakan Telkomsel, kembali fokus pada pengembangan Smart City, namun dengan ruang lingkup yang lebih luas, yaitu pengembangan aplikasi untuk daerah pedesaan.
![]() |
"Menurut kami, masalah perkotaan memiliki keterkaitan yang erat dengan masalah pedesaan. Karena itu, konsep Smart City sebaiknya juga mampu mengakomodir masalah pedesaan untuk menciptakan dampak yang lebih holistik bagi masyarakat," ujar Direktur Utama Telkomsel, Ririek Adriansyah.
Persyaratan untuk bisa mengikuti kompetisi ini adalah tim, atau individu WNI berusia 18-30 tahun. Kompetisi ini akan menyasar 20 kota di Indonesia, mulai dari Aceh sampai Ambon.
Dari sekian banyak aplikasi, 20 tim akan dipilih sebagai finalis yang akan memperoleh pelatihan dan pendampingan secara intensif, mulai dari pengembangan soft skills, teknik melakukan coding, marketing skill hingga keahlian berkomunikasi.
The Next Dev tahun pertama yang diadakan pada 2015, telah menjaring sekitar 500 ide cikal bakal startup lokal. Dari situ, diseleksi 20 tim yang idenya paling sesuai dengan visi Smart City Indonesia. Tiga pemenang dalam The Next Dev tahun lalu, adalah aplikasi Gandeng Tangan, Rumah Sinau, dan Jejakku. (rou/rou)



