Jadi selama ini salah satu faktor yang kerap menghambat tumbuhnya startup atau e-commerce di Indonesia dianggal lantaran kurang terbukanya pemerintah terhadap bisnis digital. Aturan-aturan yang berlaku pun terkesan kaku karena kurang mengakomodir kebutuhan ranah digital.
Oleh karena itu kata Mendag Thomas kuncinya adalah toleransi, dalam artian pemerintah ataupun industri harus terbuka dengan derasnya era digital.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Thomas lantas mencontohkan Silicon Valley di Amerika Serikat. Katanya sebagian besar perusahaan digital yang ada di sana diisi oleh inovator yang merupakan kaum imigran. Hal itu membuktikan kalau keterbukaan bisa memberikan efek yang positif di bisnis digital.
Dan agar bisa terbuka, mendag mengembalikan pada mental pemerintah dan juga industri. Karena keinginan untuk terbuka terkait erat dengan mental yang selama ini tertanam. "Dulu (kita) terlalu nyaman dengan statis. Sekarang harus nyaman dengan perubahan," imbuhnya.
Di sisi lain, Thomas juga menghimbau pendiri startup agar jangan takut gagal. Karena kunci kesuksesan justru terletak di kegagalan itu. Dari situ orang bisa tahu bagaimana dia harus bangkit.
"Perjalanan sebagai founder pasti ada yang namanya kesalahan atau kegagalan. Tapi harusnya itu memberi pelajaran berarti," pungkasnya. (yud/ash)