Pengalaman ini antara lain dialami oleh Tety Sianipar. Menurutnya, masih ada saja yang meragukan kemampuannya sebagai Chief Technology Officer (CTO) startup bernama Kerjabilitas.
"Ya ada aja sih yang bilang, 'CTO-nya kok perempuan'," kata Tety saat berbagi di acara Femaledev memperingati Hari Kartini di Conclave, Jakarta Selatan, Kamis (21/4/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Respect itu earn kan, kita dapatkan. Kita kerjakan saja apa yang jadi pekerjaan kita. Sepanjang kita konsisten di situ dan hasilnya terbukti, orang akan respect," sebutnya.
Co-founder Gandeng Tangan Dhini Hidayati juga tak menampik jika masih ada orang-orang berpikiran sempit yang memandang remeh perempuan di bidang teknologi. Padahal, kehadiran perempuan di komunitas developer dan startup saat ini sudah banyak dijumpai.
"Apalagi kalau gak ada background IT. Dipikirnya kita ini kaya garnish aja, pemanis. Cuma buat lucu-lucuan," cerita Dhini.
Wanita berkacamata ini setuju dengan jurus Tety, bahwa untuk melawan pendapat miring semacam itu hanya diperlukan fokus pada pekerjaan untuk membuktikan anggapan tersebut salah.
"Beauty bukan soal fisik, tapi value of your brain. Bisa aja kan di balik ide-ide di sebuah startup datang dari founder yang perempuan, dan CTO yang cowok mengeksekusi," sebutnya.
Menurut co-founder Ovula Friesca Saputra, perempuan dan laki-laki punya kekuatan masing-masing. Tinggal bagaimana caranya agar masing-masing kekuatan ini bisa saling berkolaborasi.
"Kaya saya sebenarnya bikin startup ini kan background-nya kedokteran. Suka roaming, gak ngerti gitu kalau ngomongin yang teknis. Tapi sebenarnya kan yang saya kerjakan basic-nya manual. Nah, bagaimana menerjemahkannya ke teknologi dengan bantuan CTO," terang Friesca.
Tety menambahkan, kondisi semacam ini bukan area pertarungan gender antara laki-laki dan perempuan. Jadi yang terpenting menurutnya adalah melihat potensi di mana masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya, bisa berkolaborasi.
"Cowok-cowok suka mudah terdistraksi. Jadi semangatnya tinggi, belum selesai yang ini mau buat lagi yang lain. Kalau cewek kecenderungannya fokus ngerjain satu hal dulu sampai beres. Tapi intinya semua orang bisa kerjasama," kisah Tety mengenai suka dukanya menjadi CTO.
Sementara Dhini, berdasarkan pengalamannya berpendapat, sifat alamiah perempuan yang memperhatikan hal-hal kecil juga terbawa ke pekerjaan di dunia startup.
"Roaming iya. Dan perempuan itu detail jadi suka 'menyiksa CTO-nya'. Yang saya gak tahu, ada banyak keribetan di balik request itu. Penting juga komunikasi yang baik dengan tim ketika eksekusi," sarannya. (rns/ash)