Pemicunya pun sama, aplikasi seperti Uber dianggap ilegal dan menggerogoti mata pencaharian pengemudi taksi konvensional. Di Paris, demo besar besaran pada Uber terjadi pertengahan tahun lalu.
Para sopir taksi yang memprotes Uber melakukan blokir di akses jalan menuju bandar udara Paris, membakar ban di tengah jalan sampai membuat barikade. Situasi di jalan pun menjadi chaos sebelum aparat bertindak tegas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Sedangkan di London, demo besar yang menyasar Uber terjadi Februari lalu. Sedikitnya 8.000 sopir taksi ambil bagian dalam protes itu dan mobil mereka memenuhi jalanan di London. Meski tak terjadi kerusuhan, lalu lintas terganggu secara signifikan.
Para sopir taksi ini merasa diperlakukan tidak adil karena harus membayar banyak hal untuk beroperasi. Sedangkan Uber tidak demikian. "Kami tak takut dengan kompetisi. Namun mengapa perusahaan taksi asal Amerika ini dibebaskan begitu saja?" kata salah seorang sopir
Uber pun menanggapi aksi tersebut. "Tentu saja kompetisi ini mempengaruhi taksi. Namun juga bisa menjadikan adanya peningkatan di bidang layanan dan pengalaman lebih baik bagi penumpang," kata pejabat Uber setempat.
Sama seperti di Indonesia, demo semacam itu tidak sampai berujung pada pemblokiran Uber oleh otoritas. Mereka pun coba menggodok peraturan yang menguntungkan kedua belah pihak. (fyk/fyk)
