"Ke mana kami ingin menuju adalah Anda akan memiliki tetangga yang bisa jadi sopir Anda dan sebaliknya," kata Chief Advisor Uber, David Ploufe yang detikINET kutip dari Fast Company.
Menurutnya, menjadi pengemudi Uber akan menjadi kebiasaan sehari-hari. Mereka yang punya mobil tinggal menyalakan aplikasi Uber dan memberi tumpangan pada orang yang sejalur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Visi yang sama dikemukakan oleh pesaing Uber di Amerika Serikat, Lyft. "Banyak orang berpikir untuk tetap bekerja namun senang dengan kesempatan mendapatkan sejumlah uang," kata Emily Castor, direktur Lyft.
Saat ini, tanda-tandanya sudah tampak. Banyak yang hanya menjadi sopir Uber part time. Rata rata pengemudi yang bergabung dengan Uber di Amerika Serikat menyetir kurang dari 10 jam per bulan. Artinya Uber jadi sambilan yang hanya dilakukan kalau sempat. "Dan jumlah jam itu akan makin menurun," kata David.
Strategi Uber ini memang terobosan, tapi mungkin kurang mengenakkan bagi mereka yang benar benar mencari nafkah dari Uber. Makin banyak yang bergabung, pendapatan makin turun. Belum lagi perusahaan taksi konvensional jelas makin terancam jika armada Uber tak terkendali.
(fyk/ash)