Rabu, 17 Feb 2016 11:32 WIB

Bos Twitter Siap Sambut Presiden Jokowi

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: detikINET/Infografis Foto: detikINET/Infografis
San Francisco - Dalam lawatannya ke Silicon Valley, Amerika Serikat, Presiden Joko Widodo dan rombongan dijadwalkan akan mengunjungi kantor pusat Twitter di San Francisco. CEO Twitter Jack Dorsey pun sudah siap menyambutnya.

Dalam keterangan yang detikINET terima dari Twitter, Rabu (17/2/2016), Jokowi bersama Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara akan tiba di markas 'burung biru' itu pada 17 Februari waktu setempat di AS.

Disebutkan, kunjungan ini merupakan bagian dari insiatif Jokowi untuk meningkatkan peran Indonesia dalam meningkatkan keamanan dan deteksi dini untuk melawan dan mencegah terorisme dan tindakan ekstrimis menggunakan platform komunikasi dan sosial seperti Twitter.

Tujuan utama Jokowi dalam kunjungan kerjanya ke AS ini adalah menghadiri US-ASEAN Summit di Sunnyland, California. Dalam kunjungannya ini Jokowi juga didampingi oleh Ibu Negara Iriana Jokowi.

Dalam pertemuan itu, Jokowi bersama Presiden AS Barack Obama juga membahas soal masalah inovasi dan entrepreneurship bersama CEO Microsoft Satya Nadella, CEO IBM Ginni Rometty, dan CEO Cisco Chuck Robbins.

Jokowi sempat berpendapat bahwa teknologi dan ekonomi digital adalah keniscayaan di era digitalisasi. Setiap pemerintah, menurutnya, harus memastikan bahwa era ini membawa manfaat bagi rakyat, khususnya UMKM.

"UMKM harus mendapat akses terhadap teknologi dan ekonomi digital," lanjut Presiden Jokowi. Indonesia, menurutnya, memiliki visi untuk menjadikan Indonesia sebagai digital ekonomi terbesar pada tahun 2020.

Oleh karenanya, Indonesia sangat mendukung kerjasama ASEAN-AS di bidang teknologi informatika, khususnya pemanfaatan ekonomi digital untuk umum. "Saya percaya kerja sama ini dapat mempersempit gap pembangunan di antara negara ASEAN", ucap Jokowi.

Indonesia sendiri memiliki potensi yang besar di bidang ekonomi digital. Pada tahun 2014, tercatat transaksi e-commerce Indonesia mencapai USD 12 miliar. Ini berarti Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan dari 2013 yang berada pada posisi USD 8 miliar. Diprediksi, di 2016 ini jumlahnya mencapai USD 24,6 miliar.

Hal itu memungkinkan karena Indonesia memiliki aset untuk mendongkrak industri digital. Antara lain jumlah kelas menengah yang terus meningkat, akses yang lebih besar terhadap teknologi, termasuk smartphones serta populasi pemuda yang sangat progresif. Ratusan startup tumbuh dalam beberapa tahun terakhir dan terus berkembang.

Sementara menurut Rudiantara, Indonesia juga telah meluncurkan program nasional untuk mengembangkan ekonomi digital berupa roadmap e-commerce yang merupakan hasil kolaborasi delapan kementerian.

Melalui program roadmap e-commerce ini, pemerintah Indonesia menargetkan bisa menghasilkan industri perdagangan jual beli secara online dengan nilai bisnis USD 130 miliar di tahun 2020 mendatang.

Sebagai bagian dari visi itu, pemerintah juga berkomitmen untuk mengembangkan ekosistem yang bisa menciptakan seribu teknopreneur atau wirausahawan digital dengan total valuasi USD 10 miliar. (rou/rou)