Rabu, 10 Feb 2016 12:06 WIB

Mengintip Peluang IoT dari Truk Sampah

Rachmatunnisa - detikInet
Foto: detikINET/Fox Logger Foto: detikINET/Fox Logger
Jakarta - Bermula dari maraknya bisnis startup teknologi belakangan ini, Alamsyah Cheung dan Darren Sucino tertarik ikut terjun di dalamnya. Yang menarik, keduanya sama sekali tidak punya latar belakang pendidikan teknologi informasi.

Namun keduanya dianugerahi kejelian melihat pangsa pasar industri logistik dan rental kendaraan yang kian membesar. Dari situlah mereka mendapat ide membangun bisnis startup berbasis Internet of Things (IoT), Fox Logger GPS Tracking System 2.0.

"Para pengusaha di bidang logistik kini tidak perlu lagi menghabiskan banyak biaya telepon untuk memastikan sopir truk ada di mana. Cukup membuka ponsel, tablet atau komputer, sudah bisa dipastikan di mana posisi kendaraan berada bahkan hingga mengetahui seberapa cepat sopir dalam mengemudi," kata Alamsyah kepada detikINET, Rabu (10/2/2016).

Dijelaskannya, software pelacak kendaraan ini juga memungkinkan para pengusaha di bidang logistik dan rental kendaraan mengetahui berapa km jarak yang ditempuh oleh sopir, parkir di mana saja, bahkan hingga mengetahui batas waktu jatuh tempo KIR dan STNK sehingga dapat terhindar dari denda yang disebabkan keterlambatan membayar.

"Salah satu fitur unggulan kami adalah sistem absensi keluar masuk kendaraan berbasis geografis. Jadi setiap kendaraan yang pulang atau pergi dari area pabrik atau pool dapat dengan jelas terekap absensi nomor plat kendaraan dan waktu keluar masuk area serta lamanya kendaraan berada di dalam sana," terangnya.

Melayani Pemprov DKI Jakarta

Tim Fox Logger dengan Dinas Kebersihan Pemprov DKI


Berbicara IoT, kebanyakan orang akan langsung tertuju pada segala macam perangkat canggih. Berbeda dengan Alamsyah dan Darren, mereka melihat peluang teknologinya bisa diterapkan pada hal sederhana yang tak terpikir orang, truk sampah.

Salah satu klien terbesar Fox Logger GPS Tracking System 2.0 saat ini adalah pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Tak tanggung-tanggung, sebanyak kurang lebih 1.000 unit truk sampah yang setiap harinya mengangkut sekitar 6.000 ton sampah ke TPA Bantar Gebang ini kini dengan mudah dipantau pergerakannya dengan Fox Logger GPS Tracking System 2.0.

"Sistem yang kami miliki dapat dengan mudah dikoneksikan ke sistem smart city yang ada di kota manapun. Karena pertimbangan itulah kami dipinang tim smart city Pemprov DKI Jakarta. Setidaknya sekarang kami sudah memiliki pengalaman yang baik mengenai manajemen kendaraan tidak hanya kelas korporasi tapi juga sekelas provinsi," ungkap Alamsyah dengan bangga.

Keberhasilan yang mereka raih di DKI Jakarta, membuat kota lain meminta dibuatkan hal yang sama. Sebut saja Bogor dan Cianjur yang juga sudah mulai menggunakan sistem aplikasi Fox Logger GPS Tracking System 2.0, serta beberapa kota lainnya yang sedang dalam proses negosiasi.

Berjalan dengan Penuh Keterbatasan

Tim Fox Logger


Sempitnya modal rupiah yang dimiliki ternyata tidak membuat semangat dua anak muda ini mundur. Mengandalkan pengalaman di bidang pemasaran dan relasi, mereka berhasil memberikan solusi kepada kolega yang bergerak di industri logistik dan rental kendaraan.

Nyatanya, minim pengalaman di bidang teknologi informasi dapat mereka antisipasi dengan kecermatan membuat spesifikasi sistem yang akan dibuat, sehingga melahirkan kemudahan bagi konsumen yang menggunakannya.

Bekal ini pula yang menjadi andalan mereka menarik minat investor. Cukup banyak investor dari luar negeri yang menyatakan ketertarikannya. Namun Alamsyah dan Darren masih mempertimbangkan banyak hal.

"Saat kami mengikuti pameran Produk IT, ada satu investor yang berasal dari Hongkong ingin memberikan suntikan dana alias investasi. Yang menjadi kendala utamanya adalah keinginan investor tersebut untuk memiliki 60% saham yang ada. Sehingga proses negosiasinya terhenti sampai disitu," kisah Darren.

Kini dengan 18 orang karyawan, Fox Logger GPS Tracking System 2.0 sudah melayani ratusan konsumen dengan belasan ribu kendaraan yang terdiri dari konsumen institusi pemerintahan, korporasi, dan individu yang sebelumnya kesulitan dalam memanajemen aktivitas pergerakan kendaraan dan sopirnya, bahkan hingga pengingat otomatis dokumen perizinannya seperti KIR dan STNK.

Startup ini kini memiliki jaringan bisnis hingga di 37 kota besar di Indonesia mulai dari 16 kota di Pulau Jawa, 11 kota di Sumatera, 6 kota di Kalimantan, 2 kota di Sulawesi dan 2 kota di Pulau Bali dan Lombok. (rns/ash)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed