Jumat, 11 Des 2015 14:20 WIB

Indonesia Butuh Startup Pertanian!

Adi Fida Rahman - detikInet
Jakarta - Indonesia dulu begitu dieluk-elukan sebagai negara agraris, dengan lahan pertanian yang begitu luas membentang. Namun porsi lahan pertanian di Indonesia terus menyusut, bahkan dunia teknologi pun enggan meliriknya.

Demikian yang disampaikan Rezka Aufar Leonandya, Software Engineer dari Collective Intelligent - Agriculture (CI-Agriculture) saat menjadi pemateri di Pecha Kucha Night Jakarta Vol 24 di @America, Pacific Place, Jakarta, Kamis (10/11/2015) malam.

Padahal, menurut Rezka, teknologi dapat berperan penting dalam dunia pertanian. Termasuk untuk mewujudkan kesejahteraan yang lebih bagi para petani.

Ia lantas mencontohkan di Amerika Serikat. Di Negeri Paman Sam itu banyak startup yang mengolaborasikan teknologi dengan argikultur. John Deere salah satunya, startup ini membuat sebuah sistem manajemen terintegrasi untuk meningkatkan hasil dalam sebuah lahan.

Karena itu, Indonesia perlu lebih banyak startup lagi untuk menerapkan teknologi di dunia pertanian. Pasalnya, masih banyak petani Indonesia yang mengalami kesulitan.

Reza menuturkan, dirinya pernah bertemu petani di daerah Cianjur, Jawa Barat. Petani tersebut kemudian mencurahkan keluh kesahnya selama ini.

"Mulai dari masa pembibitan hingga panen selalu dihantui kekhawatiran, mulai dari hujan turun atau tidak, masalah hama, hingga harus menjual ke tengkulak yang mana harganya rendah. Tidak heran petani selalu melekat dengan kemiskinan," ceritanya.



Adanya teknologi sebenarnya dapat membantu menyelesaikan masalah kekeringan dan tingkat curah hujan. Caranya mengindentifikasi hal tersebut dengan mengoneksikan data yang ada di sistem manajemen terintegrasi.

Dengan teknologi pula, produktivitas lahan bisa meningkat. Rezka merasa miris Indonesia dalam satu hektar lahan hanya bisa menghasilkan 3-4 ton. Padahal di Thailand dan Brasil yang punya geografis mirip, mampu menghasilkan 7-8 ton.

"Penerapan teknologi nantinya mampu meningkatkan hasil lahan Indonesia menjadi lebih baik lagi," tegas Rezka.

Masalah manajemen pun sejatinya dapat teratasi dengan teknologi. Ironisnya, rata-rata petani Indonesia hanya mengarap lahannya tanpa mengetahui kondisi alam di sekitar mereka. Sementara perusahaan satelit yang mengetahui hal tersebut tidak terjun langsung membantu.

Saat ini, Rezka beserta rekannya di CI-Agriculture tengah berupaya menyiapkan solusi dari permasalahan di atas. Mereka telah membuat sebuah aplikasi berbasis web yang kini tengah dicoba di Lampung.

"Kami membantu memonitor lahan. Agar mengetahui kondisi lahan secara realtime. Sehingga membantu meningkatkan hasil panen petani. Kami coba mengintegrasikan dengan sistem manajemen agar dapat mengambil tindakan yang tepat pada lahan tanam," ujarnya.

Selama pengembangan aplikasi tersebut memang tidak mudah. Begitu banyak tantangan yang dihadapi. Mulai dari sumber daya, petani yang masih belum melek teknologi hingga persiapan yang kadang malah berubah di lapangan.

Namun demikian, hal tersebut tidak membuat Rezka dan rekan-rakannya di CI-Agriculture patah semangat. Mereka akan terus berupaya mengembangkan teknologi untuk membantu mensejahterakan petani di tanah air.

"Butuh semua pihak agar petani di Indonesia lebih baik," pungkasnya.

(afr/ash)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed